Perdana di 2012, Kajian Ahad Pagi Masjid Syuhada

Meski kondisi lembaga dakwah ini sedang dalam masa transisi (belum terlaksananya pergantian kepengurusan), Mardinus...

Amanat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI

...pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap...

Islam Agama Ilmu Pengetahuan

Tidak ada kata dalam Islam yang menyamai kata Al-’Ilm dalam kedalaman makna dan keluasan penggunaannya. Bahkan, ...

Profile Masjid Syuhada

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta, berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda...

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan

... program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS...

Pages

15 Apr 2011

Perkembangan Dunia Islam; Mensinergikan Islam Ideal dan Islam Historis


Oleh: Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A


Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ, الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ, مُكَوِّرِ الَّليْلِ عَلَى النَّهَارِ, تَبْشِرَةً لِذَوِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارِ وَ تَذْكِرَةً لِأُولِى النُّحَى وَالْإِعْتِبَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَقُوْلُ الْحَقُّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيْلَ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَ نَبِيَّنَا وَ قَائِدَنَا وَمُعَلِّمَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَتَى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَ كَشَفَ الْغُمَّةَ وَجَاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ اعْتِقَادِهِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُواللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Saudara-saudaraku Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Pada hari Jumat ini, yang adalah Sayyidul Ayyam, yang pertamakali kita lakukan, marilah kita memperbaharui dan memperkuat rasa syukur kita kepada Allah Rabbul’alamin. Sebagai hamba Allah kita diwajibkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita semua. Nikmat yang berupa apa saja. Kesehatan, usia, rezeki, keturunan, jabatan atau kedudukan, harta, pergaulan, masyarakat dimana kita hidup yang Insyallah  tetap tenang serta bersyukur atas kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air tercinta ini. Itu semua sesungguhnya merupakan nikmat Allah S.W.T yang harus selalu kita syukuri dengan sebaik-baiknya. Allah S.W.T berfirman:

وَأَتَاكُمْ مِمَّا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ.
Jadi, sebagaimana tertera dalam ayat di atas, Allah telah memberikan apa saja yang kita perlukan untuk hidup di dunia ini. Dan kalau engkau, kita semua, mencoba menghitung nikmat Allah itu niscaya tidak mungkin akan dapat menghitungnya karena begitu banyaknya nikmat tersebut. Cuma sayang sekali kebanyakan manusia itu sering berbuat dzalim dan seringkali cenderung kafir, membelakangi, menentang dan tidak mengakui serta mensyukuri nikmat Allah ini.

Kedua, marilah pada hari yang mulia ini kita semua memperkokoh, memperkuat, meneguhkan dan menyempurnakan taqwa kita kepada Allah S.W.T. Besok-lusa pasti kita akan meninggalkan dunia yang fana ini, semua kegemerlapannya, semua yang kita lihat, kita dengarkan dan rasakan akan menjadi masa lalu dan kita akan menghadap Allah dengan berbekal satu hal saja yaitu taqwa.  Semua akan kita tinggalkan, karena itu Allah berfirman:
وَ تَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى...
Melalui ayat di atas Allah S.W.T memerintahkan kita supaya selalu mengumpulkan bekal kehidupan untuk menyongsong akhirat. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik bekal atau sangu hidup itu adalah taqwa.
Dalam Khutbah pendek ini saya akan memberikan sedikit catatan mengenai “Perkembangan Dunia Islam

Dunia Islam terutama di Timur Tengah saat ini sungguh memperihatinkan. Terjadi perang saudara dan perebutan kekuasaan yang menimbulkan korban jiwa manusia. Padahal Islam sesungguhnya mengajarkan perdamaian dan persaudaraan. Hanya saja kadang-kadang para tokohnya, politisi atau negarawannya justeru jauh dari ajaran Islam itu sendiri.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Sebagaimana kita ketahui, salah satu nama dari 99 nama Allah S.W.T yang terdapat dalam Asma’ul Husna adalah as-Salam, Yang Maha Damai. Sehingga ada seorang teman yang namanya Abdus Salam, hamba Sang Maha Damai. Sebagai muslim juga dimana saja berada kita diperintahkan untuk menyebarkan salam sebagaimana dalam hadist dikatakan: Afsu as-salaam ilaa man ‘arofta wa man lam ta’rif”, sebarkanlah salam (perdamaian disegenap penjuru dunia) baik kepada orang yang engkau kenali atau pun orang yang tidak engkau kenal. Begitupun saat kita selesai shalat, kita tengokkan muka kita ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan salam. Begitulah hakikat munculnya Agama Islam, Islam yang penuh dengan keberserahan diri datang untuk menciptakan kedamaian.

Merujuk pada kondisi sekarang ini barangkali tidaklah salah apa yang telah dikatakan Muhammad Abduh lebih dari satu abad yang lalu bahwa: al-Islaamu Mahjuubun Bil Muslimiin”, Islam itu tertutupi keindahanya, keelokannya dan kesempurnaanya oleh perilaku umat Islam itu sendiri. Sehingga ada seorang pemikir Islam yang mengatakan bahwa sesungguhnya ada dua jenis Islam di dalam kehidupan kita ini. Pertama, Islam Ideal sebagaimana dalam Al-Qur’an dan As Sunah, yaitu idea Islam yang sudah utuh dan sempurna (tammam dan kaaffah) yang penuh keindahan dan kesempurnaan tetapi ada juga yang Kedua, yaitu Islam Historis atau Historical Islam atau Islam Sejarah. Yaitu Idea Islam yang dalam perjalanan kehidupan kaum muslim itu sendiri, sudah dipraktekkan namun kadang kala tidak menunjukkan kebagusan dan kecemerlangan Islam.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Allah S.W.T di dalam al-Qur’an sesungguhnya dengan sangat jelas menyatakan bahwa nyawa manusia itu terlalu amat sangat berharga. Mari kita cermati apa yang terjadi dengan pucuk pimpinan negara-negara muslim yang saat ini tengah mengalami pertikaian dan konflik intern hingga menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Saya sudah empat kali bertemu dengan Presiden Libya Mu’ammar Khadafi. Dua kali bertemu di tenda dan dua kali di rumahnya sendiri. Setiap kali bertemu dengan Khadafi, sebelum ngomong-ngomong, biasanya dia selalu mengundang Qari untuk membacakan Al-Qur’an sekira satu sampai dua ruku’. Seolah-olah betapa meresapnya ajaran al-Qur’an atau agama Islam di dalam dada (hati) Khadafi.

Husni Mubarok muncul dari negeri muslim bernama Mesir. Jika ada sebuah negara yang namanya tercantum di dalam al-Qur’an, pasti bukan Indonesia, Malaysia dan bukan Irak tetapi Mesir. Karena Mesir ini adalah sebuah negara dimana para nabi pernah lewat, singgah atau pernah hidup di negeri ini. Artinya Mesir punya akar yang sangat panjang dalam sejarah agama-agama samawi.  Realitas sekarang pun menunjukan bahwa gudangnya ulama juga ada di Mesir.

Tapi kadang-kadang sekarang ajaran islam itu seperti hanya lewat saja tidak menghunjam di hati sanubari para tokoh, negarawan, politisi bahkan mungkin sebagian ulama di sana. Jadi kita melihat berita-berita di televisi seakan-akan Islam itu terhempas. Apakah Islam seperti itu, menyukai kekerasan dan pertumpahan darah? sebegitu mudahnya kah nyawa itu lenyap di negeri muslim?

Di Indonesia saya kira Presiden Soeharto masih agak lumayan. Di demo pada tanggal 20 Mei kemudian lengser pada tanggal 31 Mei. Mubarak butuh 18 hari baru lengser. Sedangkan Khadafi sudah sekian ribu orang yang meninggal tapi tetap tak mau mundur.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Maksud saya adalah bacalah Al-Qur’an dan resapilah nilai-nilainya. Ketika Qabil membunuh Habil dalam cerita anak Adam yang berebut suatu perkara keduniaan, Allah S.W.T membuat suatu ketentuan, regulasi yang amat sangat penting. Allah S.W.T berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا وَ مَنْ أَحْيَهاَ فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا.
Yakni, barang siapa membunuh satu nyawa yang tak berdosa atau nyawa tersebut tak melakukan kerusakan di muka bumi, sesungguhnya sama saja ia membunuh seluruh manusia. Jadi, jika sekarang populasi manusia di bumi ini sekitar 8 miliyar, maka jika seseorang membunuh satu nyawa manusia yang tidak berdosa berarti sama saja dia telah membunuh 8 miliyar manusia. Sebaliknya jika ada orang yang menghidupkan, menolong, merawat atau menyelamatkan satu nyawa manusia tak berdosa maka sesungguhnya sama saja dia telah menyelamatkan seluruh umat manusia.

Menurut saya, terus terang umat muslim sekarang ini telah gagal memahami al-Qur’an. Negeri-negeri muslim yang al-Qur’annya dibaca setiap hari, qari-nya berjumlah ribuan dan huffad-nya (penghafal al-Quran) juga mungkin amat sangat banyak tetapi kemudian ruh atau sinar al-Qur’annya tidak ditangkap, tak diserap. Alhasil, yang terjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Lantas sebenarnya peristiwa yang terjadi di Timur Tengah kini seolah-olah adalah “Iklan” yang buruk yang buruk dan merusak citra agama kita. Jadi, dengan entengnya orang-orang dari Barat, orang-orang yang Islamophobia, benci Islam tanpa sebab seperti mendapatkan amunisi yang amat sangat gampang, sangat murah dan mudah tersedia dan kemudian dengan enteng menuding “Lihatlah Islam, Islam gagal membangun perdamaian, Islam gagal merawat ketenangan dan kerukunan, Islam gagal menjadi payung bagi kemanusiaan dan lain sebagainya”.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Yang salah tentu bukan ajarannya, bukan kesalahan Nabinya dan juga Insya Allah bukan kesalahan ulamanya tetapi kita sendiri sebagai orang Islam yang sesunggunya memiliki al-Qur’an dan Sunah yang demikian bagus, elok dan sempurna itu tidak pernah kita buka, tidak pernah dihayati dan bahkan seringkali kita lupakan.

Jika tadi saya mencermati kondisi di Timur Tengah, maka di negara kita Indonesia alhamdulillah tidak separah itu. Tapi juga kelihatannya kadang-kadang ada orang yang menyebarkan ayat-ayat Allah, ada orang-orang yang seolah-olah pejuang Islam tapi juga mudah tersandung, mudah terkalahkan dengan kepentingan keduniaan. Karena itu muaranya pun sama saja, sedikit banyak akan merusak citra dan image Islam di nusantara ini.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita sebagai orang Islam, sebagai pribadi, keluarga, jam’iyah, ormas, parpol, yayasan, civitas universitas, pengelola LSM dan apa pun itu, marilah kita benar-benar merapatkan antara Islam yang Ideal dan Islam Historis. Antara ideal islam dan practical islam, antara Islam yang ideal dengan Islam yang kita praktekkan. Sehingga jangan sampai  jarak ini menganga. Karena jika terlampau menganga jarak antara keduanya maka hal itu bisa menjadi iklan yang buruk untuk agama kita. Mudah-mudah catatan yang pendek ini bisa menjadi renungan untuk kita semua. 

جَعَلْنَا اللهُ وَ إِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَ دَخَلْنَا وَإِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةٍ عِبِادِهِ الصَّالِحِيْنَ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ.

Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ, صَدَقَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الْأَحْزَاَبَ وَحْدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أّنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ, يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِ مُحَمَّدٍ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبث الدَّعْوَاتِ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَ لَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَ لَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَ اعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَ إِلَيْكَ الْمَصِيْرَ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الدُّعَاءُ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَ تَوَ فَّنَا مُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتَنِاَ قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا أَدْخِلْنَا مُدْخَلَ صِدْقٍ وَ أَخْرِجْنَا مُخْرَجَ صِدْقٍ وَ اجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ صُلْطَانًا نَصِيْرَا. رَبَّنَا أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَ أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَ أَصْلِحْ لَنَا أَخِرَتُنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا. اَلَّلهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَ اجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْيَوْمَ خَيْرًا مِنْ أَمْسِنَا وَ اجْعَلْ غَدَّنَا خَيْرٌ مِنْ يَوْمِنَا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ!   


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

7 Mar 2011

"Berlaku Jujur: Menjauhi Bohong"


Oleh: Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.A
(Ketua PP Muhammadiyah)
(Foto: Tribun News.com)

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, وَمَنْ تَبْعَ هُدَىهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً رَسُوْلُ اللهِ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Marilah kita senantiasa bersyukur ke Hadirat Allah S.W.T yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Kemudian shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Nabi Besar Muhammad S.A.W dan kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau sampai akhir nanti.
Rasulullah saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ وَ إِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ.
“Hendaklah kamu semua bersikap jujur karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke syurga”.
Jujur atau al-sidqu yaitu benar baik dalam perkataan (shidq al-hadiist), janji (shidq al-wa’di), pergaulan (shidq al-muaamalah), maupun dalam sikap (shidq al-haal). Kita harus bersikap jujur, benar. Selanjutnya Rasulullah S.A.W mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَ إِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى الْنَّارِ.
“Hendaklah kamu menjauhi kebohongan karena kebohongan membawa kepada perbuatan dosa, membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan ke dalam neraka”.
Pada suatu ketika Rasulullah S.A.W ditanya oleh seorang sahabat:
“Katakanlah kepadaku wahai Rasulullah, Bisakah seorang mukmin itu penakut? Rasul menjawab: bisa. Ditanya lagi, bisakah orang mukmin itu kikir, pelit? Rasul menjawab: bisa. Ditanya lagi: bisakah seorang mukmim itu pendusta. Rasul menjawab: tidak.
Walaupun penakut dan kikir adalah sifat tercela, Rasulullah S.A.W masih mentolerir dan tidak menafikan iman orang tadi. Tapi saat ditanya apakah bisa mukmin itu pendusta Rasulullah S.A.W menjawab tidak.
Oleh sebab itu di dalam Ilmu Hadits salah satu syarat hadits itu bisa diterima adalah apabila perawinya orang tsiqqah / tsaabit : orang yang dapat dipercaya, dan apabila perawinya bersifat adil (‘uduul, ‘adaalah).
Pengertian adil dalam Ilmu Hadits berbeda dengan adil dalam Ilmu Hukum. Adil dalam Ilmu Hadits adalah tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak sering melakukan dosa kecil.
Salah satu dosa besar yang merusak ke-adil-an (‘adaalah) seorang perawi adalah berdusta. Oleh sebab itu jika sebuah hadits diriwayatkan oleh seorang perawi yang pendusta maka haditsnya ditolak, dinyatakan dhaif dalam kategori munkar, nama haditsnya disebut Hadits Munkar. Tapi kalau perawinya itu hanya dituduh berdusta (muthamun bilkadzib) maka haditsnya tetap ditolak, status haditsnya matruk, ditinggalkan. Nama haditsnya disebut Hadits Matruk. Jadi seorang perawi itu harus benar-benar orang yang bukan pendusta dan tidak ada seorang pun yang menuduh dia  sebagai pendusta.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Suatu saat Imam Bukhari dalam perjalanannya meneliti hadits (proses kodifikasi awal) dari satu negara ke negara lain, untuk ukuran sekarang, atau pada waktu itu dari satu propinsi ke propinsi lain, dan dari satu kota ke kota lain. Imam Bukhari bisa menempuh perjalanan berhari-hari menaiki unta hanya untuk meneliti satu hadits.
Suatu ketika, sampailah beliau di rumah seorang perawi hadits,  yang kebetulan waktu itu sedang sibuk dengan kudanya. Rupa-rupanya kuda si Perawi lari, ingin kabur. Dia panggil-panggil kuda itu sambil membawa sebuah ember ditangannya. Imam Bukhari menyapanya dan  bertanya: “Apa yang sedang engkau lakukan?” Si Perawi menjawab: “Saya sedang membujuk kuda itu agar kembali. Bagaimana caranya? Dengan memperlihatkan ember ini. Kata si Perawi. Apa isi ember itu? Tidak ada isinya. Jadi, si perawi tadi hanya pura-pura akan memberikan makanan pada kuda itu. “Oh, begitu ya, terimakasih”. Lalu Imam Bukhari pamit. Sesampainya beliau dirumah, beliau coret nama orang tadi sebagai perawi hadits yang tengah ditelitinya. Dan Imam Bukhari mengatakan: “Saya tidak akan pernah percaya dengan orang yang berbohong kepada kudanya”.
Berbohong kepada kuda saja sudah ditolak oleh Imam Bukhari dan dianggap tidak layak menjadi perawi hadits. Sekiranya saja sekarang Imam Bukhari menjadi anggota DPR misalnya, kemudian beliau menjadi petugas fit and proper test, saya kira tidak ada seorang pun yang akan lolos dari seleksi Imam Bukhari.
Jangankan berbohong kepada istri, berbohong kepada murid dan mahasiswanya, berbohong kepada masyarakat dan rakyatnya, berbohong kepada seekor kuda pun ditolak oleh Imam Bukhari. Memang banyak sekarang orang yang bernama Bukhari, tetapi sama sekali tidak sama dengan Imam Bukhari.
Sebenarnya para ulama menasihatkan kepada kita agar jangan berbohong untuk pertama kali. Jadi yang dilarang hanya berbohong untuk yang pertama kali. Mafhumnya, kalau anda tidak berbohong untuk yang pertama kali maka tidak akan ada bohong yang kedua, tidak akan ada bohong yang ketiga dan setreusnya. Tapi kalau anda bohong satu kali saja maka akan ada bohong kedua, ketiga dan seterusnya untuk menutupi kebohongan yang pertama.
Contoh kasus misalnya, kita membuat suatu perjanjian dengan seorang teman untuk bertemu pada hari, jam dan tempat yang telah ditentukan. Pada saatnya tiba, ternyata teman tadi tidak datang. Kemudian besok kita tagih dia, kita tanya kenapa dia tidak datang? Kalau saja dengan jujur dia menjawab: ”Wah maaf saya ingkar janji” misalnya, mungkin kita akan segera memaafkannya. Tapi dia tidak mau jujur, misalnya. Maka mulailah dia berbohong “Wah maaf ya kemarin saya sakit” berbohong satu kali. Kita tanya lagi sakit apa? “Badan saya panas” berbohong dua kali. Kita tanya lagi sudah dibawa ke dokter atau belum? ”Sudah”, berbohong tiga kali. Dokter mana? “Dokter Rumah Sakit PKU”. Siapa dokternya? “Dokter Iqbal”. Apa kata dokter? Periksa darah atau tidak? obatnya berapa? Dan seterusnya. Sebelum kita berhenti bertanya ia tidak akan berhenti berbohong. Oleh karena itu bohong akan mempunyai anak, mempunyai cucu dan cicit.
Karenanya sebagaimana yang dinasihatkan para ulama tadi: “Jangan berbohong untuk yang pertamakali”. Apalagi kalau kemudian bohong menjadi sebuah kegemaran. Jikalau bohong sudah menjadi sebuah kegemaran maka pada orang yang seperti itu melekat suatu sifat dari sifat munafik. Seperti yang disabdakan Rasulullah S.A.W:

أَيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَاتُؤْمِنَ خَانَ.
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta. Jika berjanji ia ingkar dan jika diberikan kepercayaan ia berkhianat”.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Maka marilah kita mulai dengan diri kita sendiri untuk bertekad akan selalu jujur, berkata benar, bertindak benar dan samasekali menjauhkan diri dari kebohongan. Dan mari kita perluas, kita tularkan kejujuran itu kepada keluarga kita. Insya Allah kalau kejujuran ini bisa dikembalikan kepada bangsa ini, kita masih punya harapan Indonesia masih bisa diperbaiki. Tapi kalau kebohongan masih ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya maka tentu kita tidak akan bisa memperbaiki keadaan yang karut-marut seperti sekarang ini.
  
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَريْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Marilah kita selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah S.W.T dengan mengerjakan segala perintah-Nya, meninggalkan segala larangan-larangan-Nya dan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Semoga Allah memberikan kepada kita hasanah di dunia ini dan hasanah di akhirat nanti dan Allah menjauhkan kita dari adzab api neraka.

إِنَّ اللهَ وَمَلَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ, يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا, وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, وَجَمِيْع أَعْمَالِنَا بِرَحْمَتِكَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلَات. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا, وَسُجُوْدَنَا وَرُكُوْعَنَا, بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةُ فِى الدِّيْنِ, وَعَافِيَةُ فِى الْجَسَدِ, وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ, وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ, وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ, وَرَحْمَةُ عِنْدَ الْمَوْتِ, وَ مَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَارَةِ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا, وَ قَلْبًا خَاشِعًا, وَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا, وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَ سَقَمٍ. رَبَّنَا اَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَة وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَىنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَىنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَىنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ. يَا عَزِيْزُ, يَا غَفَّارُ, يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ! 

Masjid Syuhada,Yogyakarta 28 Januari 2011


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
       

6 Mar 2011

Tokoh-tokoh dibalik Pendirian Masjid Syuhada

SUSUNAN PANITIA MASJID SYUHADA YANG PERTAMA

Ketua: Mr. Assaat
Wk. Ketua & Pemimp. Keuangan: Bandoro Pangeran Hario Prabuningrat
Sekretaris: A. Jatim
Bendahara: M. J. Prawirojuwono
Pimpinan Bangunan: Ki Moesa Machfoeld
Pimpinan Usaha Keuangan: R. H. Benjamin
Pimpinan Bagian Pemeliharaan: H. Dalhar Bkn
Pembantu: H. Ahmad Seman
Mr. R. A. Kasmat
Lanto
Dr. Maas
Mahmud Latjuba
M. Iljas
R. Djen Mohammad
Mr. Tirtawinata
Z. A. Ahmad
Gusti Djohan

]o[

PERJALANAN KEPANITIAN & PERUBAHAN-PERUBAHANNYA

14 Oktober 1949: Let. Kol. Soeharto masuk keanggotaan panitia
: Urusan Pemelihara dan Teknik dijabat Ki Moesa Machfuld
: Urusan Neon & Khatib dijabat R. H. Dalhar dan R. H. Benjamin
21 Oktober 1949: Kesekretariatan dijabat A. Jatim dan Z. A. Ahmad
: Pengumpulan uang/Propaganda dijabat R. H. Benjamin, Lanto, R. Djen Mohammad, Ki Moesa Machfoeld, M. Iljas.
Keuangan dijabat B. P. H. Prabuningrat, M. J. Prawirojuwono, Mahmud Latjuba
Pembangunan dijabat Ki Moesa Machfoeld, Mr. R. A. Kasmat, M. Iljas, Dr. Maas
Pemeliharaan dijabat R. H. Dalhar, Lanto, Gusti Djohan
30 Oktober 1949: H. A. Saeman menjadi Anggota Bagian Keuangan
Pengurus Harian dijabat Mr. Assaat, B. P. H. Prabuningrat, Ki Moesa Machfuld, R. H. Benjamin, R. H. Dalhar, A. Jatim.
1 September 1949: Teks Perspektus oleh Mr. Assaat, Ki Moesa Machfuld, R. H. Benjamin
20 September 1949: Penitia Juri oleh R. M. Abikusno, Purbodiningrat, Menteri Agama, R. W. Djajeng Asmoro, Ir. Mertonegoro
12 Desember 1949: Ki Moesa Machfuld a.n. Panitia memberikan pandangan tentang Masjid yang akan didirikan. Mengingat bahwa gambar-gambar (sketsa, red.) menurut ketua kurang memenuhi keperluan; Memilih satu gambar yang ada selanjutnya dibuatkn Ontwrep sendiri.
: Panitia Juri diganti namanya menjadi Panitia Penasihat
1 Januari 1950: Urusan Ketegasan Tanah dijabat Mr. R. H. Kasmat dan A. Jatim
13 Januari 1950: Penyelesaian gambar untuk dibuatkan klise oleh Ki Moesa Machfuld
29 Januari 1950: Wk. Ketua menandatangani pengeluaran uang berhubung kepindahan Ketua ke Jakarta. Prospektus yang ke-2 dicetak di Semarang oleh Ki Moesa Machfuld
26 Februari 1950: Menambah Anggota untuk mengganti yang pindah ke Jakarta
-          K. R. T. Ir. Purbodiningrat
-          R. M. Iskandar Idris
-          H. S. Adenan
-          Ir. Tarip A. Harahap
5 Maret 1950                      : Panitia Kecil untuk membuat bestek dan begroting sebagai berikut:
-          K. R. T. Ir. Purbodiningrat
-          M. J. Prawirojuwono
-          H. S. Adenan
-          Ir. Tarip A. Harahap
: Bagian Propaganda / Usaha Keuangan dilengkapi oleh
-          R. H. Benjamin
-          Ki Moesa Machfuld
-          I. Iljas
-          H. Ahmad Seman
-          R. H. Iskandar Idris
2 Juli 1950 : Pengganti alm. R. H. Benjamin selaku Ketua Usaha Keuangan adalah R. H. Dalhar
Bagian Pembangunan diperbaharui:
-          Ir. Purbodiningrat
-          Ir. T. A. Harahap
-          H. S. Adenan
-          M. J. Prawirojuwono
23 Juli 1950: Mahmud L. Latjuba diangkat sebagai Sekretaris
Bagian Usaha / Propaganda ditambah H. A. Adenan
20 Agustus 1950: Pendirian Masjid Syuhada dikerjakan sendiri oleh Panitia.
Cara menyelenggarakannya dengan jalan Direksi Bg. Pembangunan dihapuskan
2 September 195 : Menentukan Direksi / bersifat perbendaharaan
-          H. Anwar Noto
-          H. Zaini Ws
-          H. Basiran Noto
2 Maret 1951: Bg. Penerangan dijabat R. H. Dalhar dan Ki Moesa Machfudl
9 September 1951: Persiapan Peletakan Batu Pertama,
Sub. Penerimaan Tamu:
-          R. Mh. Suhodo
-          H. M. Badawi
-          H. A. Hanad
-          R. H. Farid Ma`ruf
-          R. Mh. Saleh
Sub. Undangan
-          M. J. Prawirojuwono
-          S. Sumodisastro
-          P. B. P. I. I (Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia, red.)
-          P. I. I. Daerah ( Pelajar Islam Indonesia Daerah, red.)
Sub. Sidang dan Hidangan
-          P. I. I (Pelajar Islam Indonesia, red.)
-          H. M. I (Himpunan Mahasiswa Islam, red.)
Sub. Jamuan
-          M. J. Prawirojuwono
-          Bachri Sirat
Sub. Kurban
-          H. Dalhar
-          M. Sukapdi
-          M. Dawam
Sub. Pawai
-          H. W. (Hizbul Wathan, red.)
Sub. Dokumentasi
-          R. Sumardi
25 April 1952: Pengumpulan Dokumentasi oleh Z. A. Ahmad dan kesan-kesan dari Mr. Assaat
4 Agustus 1952: Penerbitan Buku Riwajat/Sedjarah Pembangunan Masdjid Sjuhada`, diserahkan kepada Z. A. Ahmad. Z. A. Ahmad mendadak pergi ke Makkah sehingga tugasnya terpaksa diserahkan kepada Panitia di Yogyakarta. Oleh Panitia di Yogyakarta tugas menyusun buku ini dibebankan kepada saudara-saudara: 1). A. Jatim; 2). Ismuha; 3). Anwar Alwi; 4). Mohd. Djananz.


Sumber: Buku Kenang2an MASDJID SJUHADA. 20 September 1952/1 Muharram 1372.