Perdana di 2012, Kajian Ahad Pagi Masjid Syuhada

Meski kondisi lembaga dakwah ini sedang dalam masa transisi (belum terlaksananya pergantian kepengurusan), Mardinus...

Amanat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI

...pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap...

Islam Agama Ilmu Pengetahuan

Tidak ada kata dalam Islam yang menyamai kata Al-’Ilm dalam kedalaman makna dan keluasan penggunaannya. Bahkan, ...

Profile Masjid Syuhada

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta, berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda...

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan

... program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS...

Pages

Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Yogyakarta. Tampilkan semua postingan

5 Des 2011

Amanat Ir. Soekarno sebagai Preseiden R.I #2

(Peletakan Batu Pertama Masjid Agung Syuhada)
 
Masjid Agung Syuhada Yogyakarta merupakan monumen sejarah, pengingat-ingat akan perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam merebut kemerdekaan N.K.R.I. Tokoh-tokoh seperti Mr. Asaat (Ketua Panitia), Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Sri Sultan HB IX, bahkan Sang Dwi Tunggal, Ir. Soekarno dan Moh.Hatta turut andil dalam pendirian masjid yang sangat modern ini (kala itu).
 
Sri Sultan HB IX sebagai Menteri Pertahanan R.I kala itu dan tentunya sebagai Ngarsa Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi tokoh peletak batu pertama pendirian masjid ini. Seperti yang terekam dalam foto di bawah ini:
(Gb. 7) Sri Sultan Hamengkubuwono IX bertindak sebagai peletak batu pertama pendirian Masjid Agung Syuhada Yogyakarta

Masjid Agung Syuhada terletak di jalan I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru,Yogyakarta. Tidak boleh dilupakan bahwa masjid ini berdiri di atas tanah milik Keraton Nyayogyakarta Hadiningrat (Sultan Ground). Sebelum berdirinya masjid ini, para pejuang pernah melakukan shalat jum'at berjamaah di Gereja Protestan, HKBP (Tenggara Masjid Syuhada saat ini). Sebuah contoh kehidupan beragama yang toleran. 

Sebagai Kepala Daerah Yogyakarta, Sri Paduka Pakualam VIII pada upacara peletakan batu pertama ini menyampaikan amanat Presiden R.I yang saat itu berhalangan hadir. Naskah teks Ir. Soekarno ini terabadikan dalam gambar berikut:
 (Gb. 8) Amanat Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada upacara peletakan batu pertama pendirian Masjid Agung Syuhada Yogyakarta tertanggal 22 September 1950

Agar dapat terbaca dengan jelas, berikut admin petik kembali isi amanat yang tertulis dalam selembar kertas yang ditulis tangan oleh Ir. Soekarno itu (eja ulang oleh admin.):  

 
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

Saya mengucap syukur alhamdulillah bahwa pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap sdr-sdr bekerja segiat-giatnya, agar supaya pembinaan masjid ini berjalan terus dengan pesat, --jangan kiranya pembinaan ini terhenti di tengah jalan. Sekali kita mulai, maka pekerjaan ini harus kita teruskan, sampai selesai. Saudara ada mengetahui, bahwa saya sendiri mengingini masjid Syuhada yang lebih besar daripada yang dirancangkan sekarang ini. Tetapi ini tidak berarti, bahwa usaha yang sekarang ini tidak mempunyai simpati saya yang sebesar-besarnya. Tiap-tiap pembinaan masjid, walau sekecil-kecilnya pun, harus kita sambut dengan gembira. Pada hakekatnya, bukan besar-kecilnya masjidlah yang menentukan roman-muka kita di hadapan Tuhan, tetapi isi jiwa kitalah yang menentukan roman-muka kita itu.

Perlu kiranya diindahkan amanat presiden pertama ini tidak hanya oleh Panitia Pendirian Masjid Syuhada kala itu, tetapi juga oleh penerusnya yang mengelola dan memakmurkan masjid bersejarah ini. Paling tidak ada 2 hal yang masih bisa kita lanjutkan:
Pertama, apa yang dikatakan oleh beliau "Sekali kita mulai, maka pekerjaan ini harus kita teruskan, sampai selesai" . Semangat seperti ini perlu dimiliki setiap aktivis MS. Dalam upaya berdakwah, mensyi'arkan Din Al-Islam harus dimiliki semangat pantang menyerah.
Kedua, "bukan besar-kecilnya masjidlah yang menentukan roman-muka kita di hadapan Tuhan, tetapi isi jiwa kitalah yang menentukan roman-muka kita itu" . Bukan besar-kecilnya kegiatan syi'ar yang diselenggarakan tetapi keikhlasan dan kesungguhan dalam berdakwah lah yang harus jadi niatan.  


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

15 Jun 2011

Kisah dibalik Kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW.



Oleh : Prof. Drs. H. Sa’ad Abdul Wahid

Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ فِى سُوْرَةٍ أُخْرَى أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيْلِ اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَ هُمْ فِى تَضْلِيْلٍ وَ أَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيْلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُوْلٍ.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mari kita panjatkan syukur, Alhamdulillah, kepada Allah SWT. yang dengan rahmat dan inayah-Nya kita semua bisa melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid Syuhada ini. Kesempatan yang diberikan kepada kita ini adalah karena Allah SWT. masih berkenan  melimpahi nikmat sehat wal’afiat, nikmat istiqamah dalam keimanana dan ketaqwaan serta tawakkal kepada-Nya.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT.
Pada kesempatan yang baik ini, mari kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. dengan taqwa yang sebenar-benarnya, yaitu: (وِقَايَةُ النَّفْسِ مِنْ أَسْبَابِ عَذَابِ اللهِ فِى الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ), “Menjaga diri dari segala sebab-sebab siksaan Allah SWT. baik di dunia maupun di akhirat”. Caranya adalah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah SWT. dan meningalkan semua larang-larangan-Nya. Insya Allah orang yang bertaqwa akan mendapatkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Dalam surat Al-Fiil (Q.S. 105: 1), Allah SWT. berfirman:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيْلِ
Artinya: “Tahukah engkau wahai Muhammad bagaimana Allah telah memperlakukan tentara-tentara gajah?”

Yang dimaksud dengan tentara-tentara gajah ialah bala tentara yang dipimpin oleh Abrahah. Abrahah adalah Gubernur Yaman yang diangkat oleh Raja Najasi dari Afrika. Pada masa itu, Abrahah telah berhasil mendirikan gereja termegah di dunia. Oleh karenanya, dia mempunyai keinginan dan cita-cita untuk memindahkan Ka’bah dari Makkah ke Yaman. Tujuannya adalah agar orang-orang berhaji ke gereja megah yang didirikannya di Yaman itu. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Abrahah berencana menghancurkan Ka’bah di Makkah dengan cara mengerahkan bala tentaranya. Dia sendirilah yang memimpin bala tentara itu. Diceritakan bahwa bala tentara Abrahah dilengkapi dengan kendaraan-kendaraan yang pada waktu itu sangat canggih yaitu dengan gajah-gajah, kuda dan unta.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Rencana ini terdengar oleh sebagian penduduk Makkah. Penduduk Makkah pun melaporkannya kepada tetua, yaitu orang yang dianggap sesepuh pada waktu itu yang bernama Abdul Muthalib. Maka setelah tentara Abrahah ini sampai ke Thaif, Abdul Muthalib naik ke sebuah bukit untuk melihat apakah yang telah terjadi di Thaif itu. Dia melihat pada waktu itu, banyak sekali hewan-hewan turun dari langit menuju ke Thaif. Beliau perintahkan kepada salah seorang anaknya, Abdullah yang adalah ayah Nabi Muhammad SAW. untuk pergi ke Thaif. Abdullah pun dengan segera  memacu kudanya ke Thaif untuk melihat apa yang telah terjadi di situ. Ternyata, di Thaif itu banyak sekali bangkai-bangkai manusia, binatang-binatang seperti kuda, unta dan gajah-gajah yang dipimpin oleh Abarahah. Abrahah Sang Gubernur Yaman pun termasuk salah korban pada waktu itu.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Mengapa Allah SWT. memperlakukan Abrahah dan tentara-tentaranya hingga menjadi hancur? karena Allah SWT. ingin menyelamatkan kelahiran Rasulallah SAW. dan menjaga kesucian rumah-Nya, Ka’bah di Mekkah.

Pada ayat berikutnya (Q.S. Al-Fiil ayat 2) Allah berfirman:
اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَ هُمْ فِى تَضْلِيْلٍ
“Tidakkah Allah menggagalkan reka daya (Abrahah) itu?”
Inilah yang disebut dalam suatu tafsir misalnya Tafsir oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan sebagainya bahwa Abrahah itu dihancurkan oleh Allah SWT.

Pada ayat berikutnya (QS al-Fil ayat 3) Allah berfirman:
وَ أَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ
“Burung-burung itu dikerahkan, dikirim oleh Allah kepada mereka berbondong-bondong”.
Muhammad Abduh dalam tafsirnya berpendapat bahwa yang dimaksud burung dalam ayat ini adalah virus yang membawa penyakit cacar. Sehingga yang dikhabarkan melalui ayat ini bahwa bala tentara Abrahah terkena penyakit cacar hingga meninggal dunia. Barangkali jika kita lihat sekarang, bisa juga sang burung dalam ayat ini kita tafsirkan sebagai burung-burung yang sangat ganas yang menghacurkan tentara-tentara gajah tersebut.

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيْلٍ
Dalam ayat berikutnya (Q.S. Al-Fiil ayat 4) dikabarkan bahwa burung-burung itu melempari mereka, tentara-tentara gajah itu dengan batu-batu dari Neraka Sijjiil. Batu-batu inilah yang menurut Muhammad Abduh dikatakan sebagai virus-virus yang dikirimkan Allah SWT. untuk menghancurkan tentara-tentara gajah itu. 

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُوْلٍ
 “Kemudian Allah SWT menjadikan mereka seperti rumput-rumput yang dimakan oleh ulat”. (Q.S. Al-Fiil ayat 5). Mereka hancur lebur karena diserang oleh penyakit-penyakit pada waktu itu.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Limapuluh hari kemudian setelah peristiwa itu, lahirlah Rasulallah SAW. Namun, Rasulallah SAW. tidak bisa melihat ayahnya karena telah meninggal ketika pulang dari Yatsrib ke Makkah. Pada waktu itu Abdullah diutus oleh ayahnya untuk mengirimkan dagangan-dagangan ke Yatsrib. Pada saat kepulangannya dari Yatsrib ke Makkah beliau diambil oleh Allah SWT. Sehingga Rasulallah SAW dilahirkan dalam keadaan yatim, tidak sempat bertemu dengan ayahandanya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kelahiran Rasullah inilah yang oleh kaum muslimin di dunia sering diperingati. Para Ulama berpendapat bahwa kelahiran Rasulallah SAW itu jatuh pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal (21 April 571 M). Hari itulah kaum muslimin memperingati hari lahir Rasulallah SAW. Pada masa Sahabat, Tabi’in maupun Tabi’ut-tabi’in memang belum pernah ada peringatan kelahiran Nabi ini. Menurut sejarahwan, peringatan ini mulai dilakukan setelah Perang Salib pada masa Khalifah Salahuddin Al-Ayyubi. Peringatan hari kelahiran Nabi ini dimaksudkan untuk mempersatukan umat, mempersatukan kekuatan agar supaya Umat Islam mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga ditakuti oleh musuh-musuhnya pada waktu itu. Sejak saat itulah peringatan-peringatan kelahiran Rasullah SAW. dilakukan hingga sekarang ini.

Beberapa hal yang sangat disayangkan adalah bahwa kadang-kadang peringatan kelahiran Rasulallah SAW. ini dibarengi dengan kemusyrikan-kemusyrikan. Padahal Rasulallah SAW. adalah Nabi yang sangat gigih memberantas kemusyrikan-kemusyrikan seperti itu. Baik ketika masih kecil, sebelum diangkat menjadi Nabi, sampai kepada masa beliau menjadi Nabi Allah SWT.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Oleh karena itu, jika kita hendak memperingati Hari Kelahiran Rasulillah SAW., sebaiknya bukan keramaian-keramaian yang diadakan tetapi kita teladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulallah SAW. Tinggalkan hal-hal yang mungkin dapat menjerumuskan kita kepada kemusyrikan sekecil apapun, dan segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Itulah yang dapat saya sampaikan pada khutbah ini, semoga khutbah yang singkat ini dapat diambil hikmah dan pelajarannya.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَىنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


Khutbah II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَىنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَ إِلَيْكَ أَنَبْنَا وَ إِلَيْكَ الْمَصِيْرَ. وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

   

Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

3 Mei 2011

Menuju Masyarakat Madani yang Dicontohkan Nabi

oleh: K.R.T. H. Ahmad Mukhsin Kamaludiningrat

Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا, أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّااللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوالْعِزَّةِ وَالْقُوَّةِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَكُلِّ مَنِ اتَّبَعَ اللهُ الْهُدَى, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِي وَ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah S.W.T yang telah memberikan berbagai kenikmatan yang kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat dan karunia yang tidak terhitung itu. Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim : 34.

وَ اَتَكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ اْلِإنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.

Nikmat yang sering kita lupakan adalah nikmat sehat dan kesempatan. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

نِعْمَتَانِ مَعْبُوْلٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَغُ. (رواه البخاري)
“Ada dua kenikmatan yang sebagian besar manusia lalai yaitu nikmat sehat dan kesempatan”.
Dengan kesehatan dan kesempatan itulah pada hari ini kita bisa melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Syuhada yang kita cintai ini.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S.Ibrahim : 7

وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari Jumat tanggal 8 Rabiul Awwal atau Bulan Maulud tahun 1432 Hijriyah dan Insya Allah empat hari lagi yaitu tanggal 15 Februari 2011 kita akan memperingati maulid Nabi Muhammad S.A.W. Bulan Rabiul Awwal ini adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W dan telah menjadi budaya kita Bangsa Indonesia, hari kelahiran Nabi tersebut diperingati sebagai Hari Besar Umat Islam dan oleh pemerintah dijadikan Hari Libur Nasional. Padahal menurut tuntunan ajaran Islam hari raya itu hanya ada dua: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Maka tidak mengherankan jika ada yang mengatakan peringatan maulud nabi itu adalah bid’ah. Bolehlah disebut bid’ah tapi Bid’ah Hasanah. Bid’ah yang baik. Artinya, memang suatu kreasi Umat Islam.

Peringatan Maulid Nabi ini tidak hanya menjadi budaya Bangsa Indonesia tetapi juga merupakan kebudayaan yang berkembang di Timur Tengah bahkan sudah diperingati sejak zaman kekhilafahan terakhir Umat Islam yaitu Khilafah Utsmaniyah di Turki.

Kita peringati hari maulid Nabi ini demi untuk dakwah. Sebagaimana yang dimaksudkan pada pelaksanaan peringatan maulid ini pertamakalinya, tujuannya tiada lain adalah untuk dakwah, untuk menggairahkan Umat Islam terhadap agamanya dan meneladani Rasulullah S.A.W karena pada diri Rasulullah itu terdapat contoh / suri tauladan yang baik (uswatun hasanah). Sebagaimana firman Allah S.W.T dalam Q.S. al-Ahzaab : 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ أُسْوةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut dan mengingat Allah”.

Keteladanan Rasulullah yang akan kita kupas pada Khutbah Jumat kali ini adalah: “Bagaimana Rasulullah S.A.W Membangun Masyarakat yang Beriman dan Bertaqwa yang Menghasilkan Barakah dan Kesejahteraan dari Langit dan Bumi”.

Bangunan masyarakat yang beriman dan bertaqwa oleh Rasulullah diawali dengan hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-11 kenabian atau tahun ke-1 hijriyah. Masyarakat negeri yang beliau wujudkan adalah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban (bertamadun). Yatsrib yang artinya Kota Penyakit adalah nama tempat hijrah Nabi, tetapi setelah Nabi hijrah dan tinggal di tempat itu, nama Yatsrib oleh Rasulullah S.A.W diganti dengan nama Madinah. Artinya, Kota yang berbudaya, bertamaddun.

Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Apa yang dilakukan Rasulullah setelah pindah / hijrah ke Madinah sebagai awal pembangunan masyarakat madani? masyarakat yang beriman dan bertaqwa?

Pertama, Memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Persatuan umat adalah salah satu syarat taqwa yang sebenarnya (حَقَّ تُقَاتِهِ) disamping berpegang teguh kepada al-Quran (حَبْلِ اللهِ). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Q.S. Ali Imran : 102 - 103.

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسلِمُوْنَ. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ.
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah sekal-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102) dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah menjinakan antara hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Ayat 103 ini memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan “sebenar-benarnya taqwa” (حق تقاته  ). Serta ayat 102 yang menerangkan tentang larangan mati sebelum dalam keadaan Islam. Yaitu berpegang teguh kepada tali Allah (al-Quran) dan tidak bercerai-berai. Yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai modal utama pembangunan masyarakat.

Yang kedua, Nabi Muhammad SAW membangun masjid di Madinah yang sekarang disebut sebagai Masjid Nabawy. Dari masjid itulah Nabi membina masyarakat dalam segala aspek kehidupan, keimanan dan ketaqwaan. Bahkan dari masjid itu pula nabi mengendalikan Negara Madinah. Nabi beristana di sana, angkatan perang juga dikonsentrasikan di sana, sekaligus sebagai Markas Besar Tentara Islam.

Yang ketiga, Mengganti nama Kota Yatsrib menjadi Madinah. Nama Madinah dipakai sebagai motivasi untuk masyarakat agar  menjadi masyarakat yang madani, yang maju, sejahtera, berbudaya dan berperadaban.

Yang keempat yang dilakukan oleh Nabi adalah Nabi menyadari bahwa masyarakat Madinah adalah masyarakat yang majemuk (bhineka), maka Nabi S.A.W membuat Piagam Madinah yang sangat terkenal sebagai undang-undang dasar pengaturan masyarakat yang majemuk tersebut. Majemuk dalam hal agama, budaya dan suku bangsa. Dalam masyarakat yang majemuk inilah diatur dan dikembangkan semangat kebersamaan dan toleransi (tasammuh) sebagai kunci keberhasilan pembangunan masyarakat madani.           
Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Empat hal tersebut yang dapat kita ambil contoh / uswah yang baik,  yang hasanah kalau kita ingin membangun masyarakat yang beriman dan bertaqwa yang memperoleh barakah dan kesejahteraan dari langit dan bumi, sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. al-A’araaf : 96 sebagai berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى اَمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Berbagai musibah yang menimpa bangsa dan masyarakat kita akhir-akhir ini kalau kita kembalikan kepada ayat tersebut adalah (mungkin) dikarenakan masyarakatnya kurang beriman dan bertaqwa, mungkin itu. Kemaksiatan dan kemungkaran banyak terjadi. Korupsi, perselingkuhan, porno-grafi, porno-aksi, narkoba, perjudian dan sebagainya.

Musibah yang merupakan siksaan dari Allah itu memang tidak hanya menimpa kepada orang yang bermaksiat saja, tetapi dapat tertimpa pula kepada seuruh masyarakat yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan. Oleh karena itulah Islam mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Kalau terjadi kemaksiatan dan kemunkaran menjadi tanggungjawab bersama kita semua untuk mencegahnya dan memperbaikinya menjadi amal yang makruf, yang baik yang sesuai dengan tuntunan agama.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S. Ali Imron : 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah golongan orang-orang yang beruntung”.

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara aktif dengan mendatangi jama’ah. Ini mungkin sedikit kekeliruan kita yang harus dievaluasi. Dakwah kita selama ini menunggu jama’ah. Yang mau datang ke masjid, merekalah yang mendapat dakwah. Tapi yang tidak pernah datang ke masjid atau ikut pengajian tidak pernah dapat. Maka sesungguhnya dakwah yang strategis, yang tepat sesuai tuntunan al-Quran adalah kita datangi mereka.

Dalam Q.S. Ali Imron : 110 Allah S.W.T berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ اَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.
“Kamu sekalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyaan mereka adalah orang-orang yang fasiq”.

Dalam ayat ini Allah SWT memberikan predikat kepada Umat Islam sebagai umat terbaik yang siap dikirim untuk keluar, untuk berdakwah menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar serta beriman kepada Allah. Jadi kesimpulan dari ayat ini saya kira bahwasanya kita harus merubah metode dakwah kita. Dari yang biasanya menunggu menjadi aktif mendatangi masyarakat dan mendakwahkan Islam.
Untuk mengefektifkan dakwah, membina masyarakat yang beriman dan bertaqwa berbasis masjid tersebut, maka Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta telah mencanangkan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah.

Kita ingat bahwasanya Masjid Syuhada ini sebetulnya dibangun oleh NKRI yang hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Panitia pendiriannya adalah Bung Karno, Bung Hatta, Mr. Asaat dan sebagainya. Jadi, menurut saya Masjid Syuhada ini fungsi dan tugasnya sebagai duplikat dari Masjid Nabawy di Madinah. Jika dilihat dari tata arsitekturnya memang beda, tetapi nilai-nilai historisnya hampir sama. Masjid ini adalah masjid revolusi, masjid yang inisiatif pembangunannya pada saat NKRI hijrah ke Yogyakarta. Sangat terkenal pada waktu itu, Ketua Pendirian Masjid Syuhada adalah Mr. Asaat yang pada waktu itu sebagai Presiden Negara Bagian Republik Indonesia-Yogyakarta.

Oleh karena itu kalau MUI mengusulkan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah dan Masjid Syuhada sebagai centra Masjid Madani-nya Yogyakarta saya kira cukup tepat. Memang Masjid Syuhada ini mengemban sejarah. Saya masih terkenang, ketika Masjid Syuhada ini pertamakali dibangun banyak sekali kegiatan-kegiatan yang luar biasa dan sangat-sangat maju manajemen pengelolaannya.

Dalam Amanat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Ngarso Dalem Ingkang Sinuwun Hamengku Buwono X dalam Amanat Pembukaan Rapat Kerja Daerah MUI Hari Sabtu tanggal 29 Januari Tahun 2011 yang dimuat dalam Surat Kabar Kedaulatan Rakyat tanggal 5 Februari 2011 di halaman 2, Beliau sangat mendukung gagasan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah bahkan beliau menegaskan bahwa dengan predikat itu justeru dapat mendukung Keistimewaan Yogyakarta yang RUU -nya saat ini sedang dibahas di DPR RI.

Pembinaan keimanan dan ketaqwaan tersebut dilakukan oleh MUI D.I Yogyakarta melalui masjid-masjid yang tersebar di seluruh wilayah D.I Yogyakarta yang jumlahnya tidak kurang dari 6.175 Masjid termasuk salah satunya Masjid Syuhada ini.

Bagi MUI adanya predikat Yogyakarta sebagai Serambi Madinah ini adalah peluang untuk dakwah. Bukan apa-apa, bukan politik, bukan Ormas tetapi peluang untuk dakwah membina keimanan dan ketaqwaan masayarakat D.I. Yogyakarta karena dengan keimanan dan ketaqwaan itulah Allah akan membukakan barakah dari langit dan bumi sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. Al-Ahzab : 96 tersebut. Semoga dengan nama Yogyakarta Serambi Madinah dapat memberikan dorongan kepada masyarakat uuntuk maju menjadi masyarakat yang berbudaya, berperadaban menuju masyarakat madani yang kita cita-citakan bersama.

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ اسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا لِْأَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ  الْكَافِرِيْنَ. اَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ مُوْجِبَةِ رَحْمَتِكَ وَأَدَاءِ إِمَامَ أَخِرَتِكَ وَ سَلَامَةً مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.                    
 
      
Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

6 Mar 2011

Profile Masjid Syuhada Yogyakarta

Masjid Syuhada Yogyakarta (arah muka)

Alasan didirikannya Masjid Syuhada
  1. Bersifat khusus, sebagai Masjid Jami’ untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam untuk beribadah kepada Allah.
  2. Bersifat umum, sebagai monumen yang hidup dan bermanfaat untuk memperingati para syuhada (pahlawan yang gugur syahid) yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa, mempertahankan kebenaran dan keadilan
  3. Sebagai tanda mata peninggalan, kenang-kenangan untuk Yogyakarta yang pernah dijadikan sebagai ibukota negara, ibukota perjuangan.
Sejarah Berdirinya Masjid Syuhada
  • Masa penjajahan Belanda, Kotabaru dihuni oleh orang-orang kulit putih, orang-orang Indonesia kelas atas/kaya dan berpendidikan tinggi. Suasana Kotabaru adalah merupakan bagian kota yang modern, bersih, sehat namun sama sekali tiada tempat peribadatan umat Islam.
  • Masa penjajahan Jepang di awal tahun 1942 semua warga kulit putih dan Belanda dipindahkan dari Kotabaru. Rumah-rumah kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang Jepang dan sebagian orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Saat itu baru muncul kebutuhan suatu tempat ibadah untuk Umat Islam.
  • Masa kemerdekaan RI warga Kotabaru menjadi terdiri dari anggota-anggota tentara, pemuda, pelajar yang beragama muslim. Kebutuhan akan tempat ibadah Umat Islam semakin terasa.
  • Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda di Gravenhage Belanda. Muncul bayangan pemikiran akan kembalinya Ibu Kota RI dari Yogyakarta ke kota metropolis Jakarta. Maka kemudian timbul keinginan adanya suatu peninggalan, tanda mata dan peringatan untuk Yogyakarta, Ibu Kota perjuangan dan peringatan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bangunan peringatan yang sesuai dengan kesucian perjuangan bangsa Indonesia, bukan patung atau tugu / barang mati, melainkan sebuah Masjid Jami’ yang setiap saat tersirat nuansa kehidupan Umat Islam.
  • 14 Oktober 1949; Berdiri Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada yang disingkat  menjadi Panitia Masjid Syuhada
  • 17 Agustus 1950; Penetapan garis kiblat Masjid Syuhada oleh KH. Badawi
  • 23 September 1950; Peletakan Batu Pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Selaku Mentri Pertahanaan RI dan Kepala Daerah DIY.
  • 25 Mei 1952; Berdiri Yayasan Asrama  dan Masjid ( YASMA).
  • 20 September 1952; Peresmian Masjid Syuhada.
  • 26 September 1952; Ibadah Sholat Jum’at pertama dengan Imam dan Khatib Muhammad Natsir. Setelah itu Wakil Presiden RI Drs. H.M. Hatta yang baru kembali dari menunaikan Ibadah Haji di Mekkah memberikan ceramahnya di ruang aula/kuliah.
  • 13 September 1953; Menerima sumbangan 24 helai permadani buatan Karachi Pakistan dari rakyat dan pemerintah Pakistan.
Dengan selesainya pembangunan Masjid Syuhada maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab pemakmuran masjid selanjutnya Panitia Masjid Syuhada yang dibentuk pada 14 Oktober 1949 berganti nama menjadi Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA).
Jabatan Ketua Umum selalu diiberikan kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai waqif tanah dimana Masjid Syuhada didirikan. Saat ini (2008 – 2013) jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada H. Kanjeng Raden Tumenggung Djatiningrat (H. Tirun Marwito, SH). Dengan tujuan dakwah dan berkontribusi pada dunia pendidikan, maka YASMA SYUHADA membentuk susunan kepengurusan sebagai berikut (periode 2008 – 2013):
Penasihat: Sri Sultan Hamengku Buwono X
                  Sri Paduka Paku ALam IX
                  Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA
                  GBPH H. Joyo Kusumo
                  Prof. Dr. H. Moh. Mahfudz MD
                  Ka. Kanwil. DEPAG D. I. Yogyakarta
                  Wali Kota Yogyakarta
Pembina: Drs. H. Barmawi Mukri, SH., M.Ag
                   Dr. Ir. H. Harsoyo, M.Sc
                   Prof. H. M. Suyanto, M.Pd., Ph.D
                   Dr. H. Jawahir Thontowi, SH
Pengawas: Drs. H. Subowo, M.M
                      Ir. H. Harsoyo M., Dipl.HS
                      Drs. DIdi Wahyu Sudirman, M.M
Ketua I: Ir. H. Muhammad Hanif, MT
Ketua II: H. E. Zainal Abidin, SH., MS., MPA 
Bidang Pendidikan: Ketua, Dr. Ir. H. Hary Sulistyo 
Bidang Sarana dan Prasarana: Ketua, Ir. H. Eddy Sofyan H, MT 
Bidang Pengembangan Usaha: Ketua, Amir Fansuri, SE 
Bidang Ibadah, Keta’miran, Asrama dan Alumni: Ketua, H. Dachwan, M.Si 
Bidang Kajian dan Pembinaan Kader: Ketua, Drs. Kusworo, M.Hum 
Bidang Kewanitaan: Ketua, Dra. Hj. Yayah Kusiah, M.Pd


Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada
1.    Lembaga Pendidikan Formal:
·     Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada (TKMS): ± 200 siswa;
·     Sekolah Dasar Masjid Syuhada (SDMS): ± 600 siswa;
·     Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT MS); sejak 2004: ± 100 siswa;
·     Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS); terdiri dari dua prodi yaitu: Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

2.  Lembaga Non Formal:
·     Lembaga Pendidikan al-Quran Masjid Syuhada (LPQMS) sejak 1952; menyelenggarakan kursus membaca al-Quran terdiri dari kelas: Pemula, Tajwid, Murattal dan Seni Baca;
·     Pendidikan Anak Masjid Syuhada (PAMS) didirikan 20 Oktober 1953; menyelenggarakan pelatihan kompetensi untuk ustadz/ustadzah TPA serta bekerjasama dengan TPA/TK menyediakan tenaga pengajar (ustadz/ustadzah);
·     Pendidikan kader Masjid Syuhada (PKMS) didirikan 20 Nopember 1954; terdiri dari 3 program utama: Markaz al-Lughah al-Arabiyah, Training Center dan Event Organizer;
·     Corps Dakwah Masjid Syuhada (CDMS); menyelenggarakan kajian keislaman dan masalah-masalah aktual, serta pembinaan terhadap remaja-remaja muslim di sekolah-sekolah;
·     Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah dan Bantuan Hukum (LPKSBH) Masjid Syuhada; menyelenggarakan jasa konsultan untuk permasalahan keluarga dan rumah tangga;
·     Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Masjid Syuhada (LAZIS MS); menerima dan menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah serta wakaf dari para jama’ah;
·     Baitul Maal Wat Tamwiil Syuhada (BMT Syuhada); sebagai pusat sirkulasi keuangan lembaga-lembaga / unit Yayasan Masjid dan Asrama Syuhada serta sebagai media pengembangan usaha;
·     Pengajian Putri Masjid Syuhada (PPMS).
·     Kelompok Pengajian Al-Quran (KPA)  Al-Hijrah Masjid Syuhada.
·     Forum Shoilihat

3. Asrama Putera dan Puteri YASMA SYUHADA
  SDM (Sumber Daya Manusia) pelaksana teknis untuk memakmurkan Masjid Syuhada (penggerak lembaga/unit non-formal) berasal dari warga Asrama Putra dan Putri YASMA SYUHADA. Asrama Putra terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru-Yogyakarta 55224 Tlp. 0274-547227 atau tepatnya di sebelah timur Masjid Syuhada. Asrama putra ini berkapasitas 20 mahasiswa. Asrama putri beralamat di Jl. Pringgokusuman No. 12 berdampingan dengan kampus STAIMS Telp. 0274-514520. Setiap warga yang mondok di Asrama tidak dipungut biaya tetapi sebagai konsekuensinya bertanggungjawab  sepenuhnya atas kegiatan-kegiatan lembaga non-formal.

Program Reguler Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada
  • Studi Islam Efektif           
  • Kajian Keluarga Sakinah
  • Pelatihan Kader Da’i       
  • Pendidikan Jurnalistik
  • Pelatihan Bahasa Asing
  • Training Ustadz/ah TPA                          
  • Pelatihan Nasyid
  • Pengembangan Masyarakat