Perdana di 2012, Kajian Ahad Pagi Masjid Syuhada

Meski kondisi lembaga dakwah ini sedang dalam masa transisi (belum terlaksananya pergantian kepengurusan), Mardinus...

Amanat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI

...pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap...

Islam Agama Ilmu Pengetahuan

Tidak ada kata dalam Islam yang menyamai kata Al-’Ilm dalam kedalaman makna dan keluasan penggunaannya. Bahkan, ...

Profile Masjid Syuhada

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta, berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda...

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan

... program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS...

5 Des 2011

Amanat Ir. Soekarno sebagai Preseiden R.I #2

(Peletakan Batu Pertama Masjid Agung Syuhada)
 
Masjid Agung Syuhada Yogyakarta merupakan monumen sejarah, pengingat-ingat akan perjuangan para pahlawan yang telah gugur dalam merebut kemerdekaan N.K.R.I. Tokoh-tokoh seperti Mr. Asaat (Ketua Panitia), Mr. Sjafruddin Prawiranegara, Sri Sultan HB IX, bahkan Sang Dwi Tunggal, Ir. Soekarno dan Moh.Hatta turut andil dalam pendirian masjid yang sangat modern ini (kala itu).
 
Sri Sultan HB IX sebagai Menteri Pertahanan R.I kala itu dan tentunya sebagai Ngarsa Dalem Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat menjadi tokoh peletak batu pertama pendirian masjid ini. Seperti yang terekam dalam foto di bawah ini:
(Gb. 7) Sri Sultan Hamengkubuwono IX bertindak sebagai peletak batu pertama pendirian Masjid Agung Syuhada Yogyakarta

Masjid Agung Syuhada terletak di jalan I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru,Yogyakarta. Tidak boleh dilupakan bahwa masjid ini berdiri di atas tanah milik Keraton Nyayogyakarta Hadiningrat (Sultan Ground). Sebelum berdirinya masjid ini, para pejuang pernah melakukan shalat jum'at berjamaah di Gereja Protestan, HKBP (Tenggara Masjid Syuhada saat ini). Sebuah contoh kehidupan beragama yang toleran. 

Sebagai Kepala Daerah Yogyakarta, Sri Paduka Pakualam VIII pada upacara peletakan batu pertama ini menyampaikan amanat Presiden R.I yang saat itu berhalangan hadir. Naskah teks Ir. Soekarno ini terabadikan dalam gambar berikut:
 (Gb. 8) Amanat Presiden Republik Indonesia, Ir. Soekarno, pada upacara peletakan batu pertama pendirian Masjid Agung Syuhada Yogyakarta tertanggal 22 September 1950

Agar dapat terbaca dengan jelas, berikut admin petik kembali isi amanat yang tertulis dalam selembar kertas yang ditulis tangan oleh Ir. Soekarno itu (eja ulang oleh admin.):  

 
PRESIDEN
REPUBLIK INDONESIA

Saya mengucap syukur alhamdulillah bahwa pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap sdr-sdr bekerja segiat-giatnya, agar supaya pembinaan masjid ini berjalan terus dengan pesat, --jangan kiranya pembinaan ini terhenti di tengah jalan. Sekali kita mulai, maka pekerjaan ini harus kita teruskan, sampai selesai. Saudara ada mengetahui, bahwa saya sendiri mengingini masjid Syuhada yang lebih besar daripada yang dirancangkan sekarang ini. Tetapi ini tidak berarti, bahwa usaha yang sekarang ini tidak mempunyai simpati saya yang sebesar-besarnya. Tiap-tiap pembinaan masjid, walau sekecil-kecilnya pun, harus kita sambut dengan gembira. Pada hakekatnya, bukan besar-kecilnya masjidlah yang menentukan roman-muka kita di hadapan Tuhan, tetapi isi jiwa kitalah yang menentukan roman-muka kita itu.

Perlu kiranya diindahkan amanat presiden pertama ini tidak hanya oleh Panitia Pendirian Masjid Syuhada kala itu, tetapi juga oleh penerusnya yang mengelola dan memakmurkan masjid bersejarah ini. Paling tidak ada 2 hal yang masih bisa kita lanjutkan:
Pertama, apa yang dikatakan oleh beliau "Sekali kita mulai, maka pekerjaan ini harus kita teruskan, sampai selesai" . Semangat seperti ini perlu dimiliki setiap aktivis MS. Dalam upaya berdakwah, mensyi'arkan Din Al-Islam harus dimiliki semangat pantang menyerah.
Kedua, "bukan besar-kecilnya masjidlah yang menentukan roman-muka kita di hadapan Tuhan, tetapi isi jiwa kitalah yang menentukan roman-muka kita itu" . Bukan besar-kecilnya kegiatan syi'ar yang diselenggarakan tetapi keikhlasan dan kesungguhan dalam berdakwah lah yang harus jadi niatan.  


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4 Des 2011

Masjid Agung Syuhada Yogyakarta (1950 -1952) #1


Pada unggahan kali ini, admin akan menyajikan foto-foto dukumentasi pada saat-saat awal pendirian Masjid Agung Syuhada Yogyakarta. Seperti sudah diinformasikan sebelumnya (pada tulisan "Profile Masjid Syuhada"), Masjid Agung Syuhada Yogyakarta didirikan pada 20 September 1952 (Hari Jadi) atau bertepatan dengan 1 Muharram 1371 H. Foto-foto sekaligus beberapa informasi mengenai proses pembangunan ini akan disampaikan dalam beberapa unggahan. Dan sebagai awalan akan diunggah terlebih dahulu foto-foto dan informasi seputar pembangunan lantai pertama.

Berikut adalah foto-foto yang berhasil dikumpulkan:
 (Gb. 1) Data fisik Masjid Agung Syuhada Yogyakarta berdasarkan data tanggal 16 Desember 1967.


 (Gb. 2) Lapangan tempat beribadah Jum'at sebelum pendirian Masjid Agung Syuhada. Diperkirakan juga lapangan inilah yang biasa dijadikan tempat 'bal-balan' (dalam cerita alasan didirikannya MS).


 (Gb. 3) Pembangunan pondasi Masjid Agung Syuhada dimulai.Terlihat salah panitia memeriksa proses pembangunan ini.


 (Gb. 4) Besi-besi beton mulai dipancangkan, tanda proses pembangunan lantai berikutnya segera dilaksankan. Nantinya Masjid Agung Syuhada memiliki tiga lantai.


(Gb. 5) Pondasi itu pun semakin kokoh. Lantai 1 nantinya menjadi saksi sejarah berdirinya universitas tertua di Indonesia, Universitas Islam Indonesia.

Perlu diingat bahwa peletakan batu pertama Masjid Agung Syuhada Yogyakarta atau yang pada awalnya dinamai dengan Masdjid Peringatan Sjuhada dilakukan oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Peletakan batu pertama ini dilaksankan pada tanggal 23 September 1950 (11 Dzulhijjah 1369). Saat itu pula Sri Sultan HB IX tengah menjabat Menteri Pertahanan Negara Kesatuan Republik Indonesia. Presiden R.I saat itu, Ir. Soekarno tidak bisa hadir tetapi berkenan menyampaikan amanat tertulis (akan diunggah berikutnya) yang dibacakan oleh Sri Paku Alam sebagai Kepala Daerah Yogyakarta. Upacara peletakan batu pertama juga dihadiri oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara. Saat itu beliau menjabat sebagai Menteri Keuangan R.I. (sumber: Buku Kenang2an Masdjid Sjuhada, September 1952).

(Gb.6) Inilah jadinya lantai pertama Masjid Agung Syuhada Yogyakarta

Lantai pertama Masjid Agung Syuhada tidak tampak dari arah timur (pintu masuk utama), karenanya jika dilihat dari arah ini Masjid Agung Syuhada hanya terlihat memiliki 2 lantai. Lantai pertama yang hanya terlihat dari barat masjid ini pernah dijadikan ruang kuliah Universitas Islam Indonesia sebelum memiliki bangunan kampus sendiri. Saat ini setelah UII memiliki tempat kuliah sendiri di jalan kaliurang, ruangan berupa aula ini digunakan untuk penyelenggaraan seminar-seminar, pelatihan, resepsi pernikahan, kajian tafsir, baca tulis Al-Quran dan sebagainya. 

Karena ide pendirian Masjid Syuhada salah satunya yaitu sebagai monumen kenang-kenangan dari Pemerintah R.I yang akan berpindah kembali ke Jakarta, tentu banyak sekali simbol-simbol yang bisa dijadikan pengingat-ingat pada bangunan fisik Masjid Syuhada. Seperti dapat ditemui di lantai pertama ini, jika pembaca memperhatikan jumlah ventilasinya maka akan didapat jumlah 20. Selain agar ruangan ini memperoleh udara yang cukup sejuk, dibuatnya 20 ventilasi ini juga sebagai pengingat-ingat bagi kaum muslim akan sifat Allah yang 20.

Bersambung... 

Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

28 Nov 2011

“ISLAM AGAMA ILMU PENGETAHUAN”


Oleh: Prof. Dr. H. Syamsul Anwar, MA*
Khutbah I
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي هَدٰناَ لِهـٰـذَا وَ مَا كُنَّا لِنَهْتَدِيَ لَوْ لَا أَنْ هَدٰنَا اللهُ أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلـٰـهَ اِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلّـٰـلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلـٰـى هـٰـذَا النَّبِيِّ الْكَرِيْمِ وَ عَلـٰـى آلِهِ الطَّيِّبِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ وَ أَصْحَابِهِ الرَّاشِدِيْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالـٰـى فِى كِتَابِهِ الْكَرِيْمِ أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. فَيَا عِبَادَ اللهِ اتَّقُوْا الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ.

Para Hadirin Sidang Jum’at Yang Berbahagia
Pertama-tama seperti biasanya tentu marilah kita memanjatkan puji dan syukur kepada Allah SWT., yang tiada pernah henti-hentinya melimpahkan karunia dan nikmat-Nya kepada kita, antara lain nikmat kesehatan. Sehingga dengan nikmat itu, Alhamdulillah kita dapat menunaikan kewajiban mingguan kita berupa Ibadah Jum’at. Shalawat dan salam juga tidak lupa kita panjatkan kepada junjungan kita Nabi Besar Muhammad SAW., yang 14 abad yang lampau telah berjuang menegakkan kalimat tauhid, kalimat iman, dan kalimat Islam agar menjadi bimbingan bagi umat manusia hingga akhir zaman.

Para Hadirin Sidang Jum’at Yang Berbahagia
Nabi Muhammad SAW. menerima wahyu yang pertama yaitu surat Iqra atau surat Al-‘Alaq. Melalui wahyu pertama ini, beliau dan seluruh umatnya  diperintahkan untuk melakukan pembacaan, yang juga bisa dimaknai sebagai suatu pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan demikian, Islam dengan sumber pokoknya Al-Qur’an adalah suatu agama yang mendukung pengembangan ilmu dan teknologi. Tidak berlebihan bila kita mengatakan bahwa Al-Islam dapat disebut sebagai Agama Ilmu. Seorang orientalis bernama Frans Rogental meneliti dan menyatakan bahwa: “Ilmu merupakan salah satu konsep yang mendominasi Islam, memberi bentuk dan kompleksitas kepada peradaban penganutnya. Tidak ada kata dalam Islam yang menyamai kata Al-’Ilm dalam kedalaman makna dan keluasan penggunaannya. Bahkan, tidak juga kata seperti kata tauhid, Ad-Din dan semacamnya. Tidak ada cabang dari kehidupan intelektual, keagamaan, politik bahkan keseharian seorang muslim biasa, yang tidak tersentuh oleh suatu sikap yang meluas terhadap pengetahuan sebagai suatu unsur yang memiliki nilai amat tinggi bagi eksistensi seorang muslim. Al-’Ilm atau ilmu adalah Islam itu sendiri. Sekalipun para teolog mungkin tidak menyetujui ketepatan penyamaan tersebut. Kenyataan kegandrungan Umat Islam awal dalam mendiskusikan konsep Al-’Ilm, merupakan bukti arti penting dari konsep tersebut di dalam agama Islam”. Demikianlah hasil penelitian seorang orientalis, Frans Rogental, dalam memangdang peradaban Islam. Mungkin itu kedengaran berlebihan, tapi mari kita lihat berikut ini.

Kenyataan ini dapat dilihat pertama-tama dalam Al-Qur’an itu sendiri sebagai kitab suci umat Islam. Di dalam Al-Quran terdapat 750 kata yang berakar dari Al-’Ilm. Artinya, di dalam al-Qur’an terdapat 750 kata ilmu dengan berbagai turunannya. Seperti ‘alim, ‘ulama, ya’lamuun, ta’lamuun dan sebagainya. Yang mewakili satu persen dari jumlah vocabulary Al-Qur’an yang berjumlah kurang lebih 78.000 buah. Dalam Al-Qur’an juga terdapat ajaran yang menjunjung tinggi ilmu. Seperti firman Allah di dalam al’Qur’an,
...يَرْفَعِ اللهُ الَّذِيْنَ آمَنُوْا مِنْكُمْ وَالَّذِيْنَ أُوْتُوْا الْعِلْمَ دَرَجَات...  (المجادلة: ١١)

“Niscaya Allah akan meninggikan derajat orang-orang beriman dan berilmu beberapa derajat...”
Dalam ayat lain Allah SWT. berfirman:
وَلَاتَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ... (الإسرآء: ٣٦)

“Janganlah kamu mengikuti apa-apa yang kamu tidak punya pengetahuan atau ilmu tentangnya…”
Bahkan, ayat Al-Qur’an pertama kali yang turun adalah mengenai perintah membaca yang dapat berarti dorongan pada perkembangan ilmu pengetahuan. Di dalam hadist-hadist Nabi, sebagai penjelas dan penafsir Al-Qur’an terdapat dorongan untuk menuntut ilmu yang selaras dengan penekanan arti penting ilmu di dalam al-Qur’an. Dalam salah satu hadistnya, Nabi Besar Muhammad SAW. bersabda :
مَنْ سَلَكَ طَرِيْقًا يَلْتَمِسُ فِيْهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللهُ لَهُ طَرِيْقًا إِلَى الْجَنَّةِ

“Barang siapa menempuh suatu jalan yang disitu ia mencari atau menuntut ilmu pengetahuan maka nanti Allah akan memudahkan jalan baginya menuju ke dalam surga” . (H.R. Imam At-Tirmidzy).
Di dalam hadits yang lain Nabi Muhammad SAW. juga bersabda:
مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ كَانَ فِى سَبِيْلِ اللهِ حَتَّى يَرْجِعَ

“Barang siapa yang keluar untuk menuntut ilmu maka dia akan berada di jalan Allah sampai ia kembali”. (H.R. Al-Hakim dan Ibn Hibban).
Selain dari itu, Nabi juga melarang menyembunyikan ilmu. Bahkan beliau bersabda:
مَنْ كَتَمَ عِلْمًا اَلْجَمَهُ اللهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنَ النَّارِ.

Yang artinya: “Barang siapa menyembunyikan ilmu nanti di hari akhirat Allah akan mengekang (mengikat) orang itu dengan tali yang berasal dari api neraka”.
Berbagai kitab hadits seperti yang dikutip di atas tadi dan kitab-kitab hadits lain selalu mempunyai bab tentang Kitabul ‘Ilmi. Kitab-kitab yang membahas cabang ilmu pengetahuan tertentu dalam Islam seperti kitab-kitab ilmu kalam selalu memulai pembahasannya dengan pendefinisian ilmu. Jadi kalau kita membaca khazanah kitab-kitab kalam klasik selalu dimulai dengan ta’riful ‘ilm, definisi tentang ilmu pengetahuan. Demikian juga dengan kitab ushul fiqih, kitab ilmu mantiq dan kitab-kitab lain. Ini semua menggambarkan etos keilmuan yang diajarkan oleh agama Islam terutama sekali melalui kitab suci-Nya, Al-Qur’an.

Di dalam Al-Qur’an juga terdapat berbagai wacana tentang ilmu. Antara lain adalah wacana yang mewajibkan Umat Islam untuk menuntut ilmu. Allah Swt berfirman di dalam Q.S. At-Taubah ayat 122 yang artinya: “Tidak sepatutnya bagi orang-orang yang mukmin itu pergi semuanya ke medan perang. Mengapa tidak pergi dari tiap-tiap golongan diantara mereka itu beberapa orang untuk memperdalam pengetahuan mereka dan untuk memberi peringatan kepada kaumnya apabila mereka telah kembali kepadanya supaya mereka itu bisa menjaga diri”.

Ayat ini dijadikan dasar oleh para ulama fiqih untuk menyatakan bahwa hukum menuntut ilmu itu adalah wajib. Orang beriman dan berilmu mempunyai kedudukan dan derajat yang tinggi disisi Allah telah disampaikan sebelumnya pada firman Allah Q.S. Al-Mujadalah:11.
Di dalam al-Qur’an terdapat sejumlah pernyataan yang pemahamannya memerlukan berbagai cabang pengetahuan seperti pernyataan tentang penciptaan alam yang memerlukan ilmu pengetahuan alam, tentang pergerakan benda langit yang memerlukan ilmu astronomi, tentang makhluk dan kehidupannya yang memerlukan pengetahuan biologi, tentang laut, air, gunung, tumbuh-tumbuhan, hewan, kejadian manusia dan lain sebagainya yang memerlukan dan sekaligus mendorong pengembangan ilmu. Umat Islam generasi awal menangkap semangat keilmuan ini dan menjadikannya sebagai etos yang menyemangati peradaban mereka. Betapa kuatnya etos keilmuan Umat Islam awal tercermin dalam semboyan-semboyan mereka yang terkadang dianggap sebuah hadits. Misalnya: 
أُطْلُبُ الْعِلْمَ وَ لَوْ بِالصِّيْنِ

“Tuntutlah ilmu sekalipun sampai ke negeri China”.
Teks itu bukanlah sebuah hadits, tetapi adalah sebuah qaul (perkataan) dari para ulama yang lama-kelamaan diangkat dan dianggap sebagai sebuah hadits. Jadi ini adalah hadits yang dha’if. Tapi meskipun demikian, jika dilihat dari aspek sosiohistoris, ini adalah rekaman tentang etos keilmuan umat pada zaman itu. Mereka sangat menekankan penuntutan ilmu walaupun sampai di negeri China. Karena negeri China pada saat itu dikenal memiliki peradaban yang tinggi. Bahkan sekarang pun peradaban itu juga nampaknya akan kembali lagi disandang China. Para ahli berpendapat, “sekarang ini dunia sedang mengalami pergeseran geoperadaban dari bumi belahan barat ke negeri China.

Dengan etos umat seperti tersebut, Islam dapat berkembang dengan cepat ke berbagai penjuru dan membebaskan peradaban dunia zaman itu dari kejahilan. Dengan etos seperti ini pula kebudayaan Islam kemudian menjadi mercusuar perkembangan ilmu pengetahuan di masa lampau. Di dalamnya lahir ilmuan-ilmuan terkemuka dalam banyak cabang ilmu pengetahuan.

Ada beberapa hal yang mungkin dapat dianggap sebagai faktor pendorong perkembangan ilmu dalam kebudayaan di masa lampau.
Pertama, adalah dorongan ajaran agama itu sendiri. Sebagaimana tadi dikemukakan di dalam sejumlah teks Al-Qur’an dan teks hadits.
Kedua, karena kegandrungan para penguasa, khususnya para Khalifah terhadap ilmu pengetahuan. Sehingga mereka mendorong pengembangan ilmu pengetahuan dan mendekatkan para ilmuan dan ulama ke istana mereka.  Kegandrungan para Khalifah ini juga disebabkan oleh beberapa sub-faktor lagi. Faktor pertama, tentu adalah karena semangat keilmuan yang diajarkan oleh Islam itu sendiri seperti tadi dikemukakan. Kedua, adanya prestise yang diperoleh dari berkembangnya ilmu pengetahuan dan berhimpunnya para ilmuwan di sekeliling istana. Ketiga, ilmu pengetahuan itu dan juga kehadiran para ulama di sekitar istana merupakan sumber legitimasi yang besar bagi kekuasaan para khalifah. Itulah yang mendorong mereka bergairah untuk mengembangkan ilmu.
Ketiga, adanya sikap terbuka umat dan sikap kreatif khususnya para cendekiwan saat itu terhadap peradaban lain yang bersumber kepada suatu pandangan dunia yang bersifat open minded dan optimistic yang melihat dunia sebagai suatu karunia ilahi yang baik yang harus dimanfaatkan dan dikelola sedemikian rupa. Bukan sebagai sesuatu yang jahat dan terbuang dari rahmat illahi dan karenanya dikutuk dan harus dijauhi. Sifat terbuka dan open minded ini telah membebaskan umat dari suatu bentuk ketertutupan diri dan konservatisme yang melumpuhkan dinamika. Pandangan dunia Umat Islam yang open minded yang dipegang oleh umat saat itu telah membuat Islam terbuka terhadap peradaban manapun dan membuat mereka kreatif dan proaktif dalam mengelola bahan-bahan budaya dari peradaban lain, sehingga dengan semangat itu ilmu pengetahuan berkembang pesat di dalam peradaban Islam.
Keempat, adalah dukungan ekonomi altruistik yang memadai dari sektor perwakafan. Di zaman klasik dan zaman tengah Islam, wakaf memainkan peran penting dalam pengembangan pendidikan dan riset ilmiah. Perguruan-perguruan merupakan tempat belajar ilmu pengetahuan gratis karena dukungan dana wakaf. Al-Ghazali, seorang ilmuwan yang terkenal itu menceritakan tentang dirinya, bahwa dia dengan adiknya Ahmad Al-Ghazali ditinggal mati oleh ayahnya dalam keadaan miskin. Mereka terpaksa masuk madrasah atas saran pengasuhnya yang juga miskin. Bukan untuk menuntut ilmu melainkan untuk bisa memperoleh jatah makan secara gratis. Jadi mereka masuk ke madrasah itu niat awalnya untuk mendapatkan makan secara gratis.

Poinnya disini adalah bahwa di zaman lampau para ulama berinisiatif mengembangkan wakaf-wakaf, sehingga dana-dana pendidikan dapat digratiskan dan itulah juga faktor yang mendorong cepat berkembangnya ilmu pengetahuan di masa yang lampau. Sehingga Islam menjadi pusat dari pengembangan ilmu pengetahuan. Namun kemudian, yang mungkin kita sesalkan adalah terjadinya semacam kecelakaan sejarah.

Pada tahun 656 H/1258 M, kota Baghdad sebagai pusat peradaban Islam pada zaman itu diserang dan dihancurluluhkan oleh tentara Hulagu dari bangsa Mongol. Semua khalifah dan keluarganya dibunuh, termasuk ulama-ulama yang berada di sekitar istana.
Kemudian dua tahun berikutnya, pasukan Mongolia ini menyerbu lagi lebih ke arah barat dengan sasaran Afrika Utara. Meskipun pada 658 H/1260, mereka dapat dikalahkan oleh pasukan Bangsa Mamluk. Kerajaan Mamluk inilah yang meneruskan kerajaan khalifah Abbasiyah yang hancur di Baghdad. Para penguasa Mamluk ini pada dasarnya adalah penguasa-penguasa yang sangat ‘alim dan sangat menghormati ajaran Islam. Oleh karena itu kebijakan mereka pun adalah mengembangkan ilmu pengetahuan sedemikian rupa. Pada zaman mereka inilah lahir para ulama yang kita kenal seperti Ibn Taimiyah dan muridnya Ibn Qayyim. Lahir pula ahli hadist seperti Imam ibn Hajar Al-Atsqalani, sebelumnya juga ada Imam An-Nawawi. Termasuk pada periode ini turut memberikan kontribusi atas lahirnya tokoh sejarawan terkenal yakni Ibn Khaldun.

Tetapi apa yang kita maksud dengan kecelakaan sejarah itu tadi adalah bahwa para penguasa Mamluk ini hanya mengembangkan ilmu pengetahuan keagamaan. Mereka tidak mengembangkan ilmu pengetahuan umum yang dulu pada abad ke-2, ke-3 dan ke-4 H menjadi objek pengembangan oleh para khalifah sebelumnya. Oleh karena itu ilmu pengetahuan sangat maju sekali. Para sejarawan mengatakan periode ini adalah periode yang paling kreatif  di dalam tulis-menulis karya keagamaan Islam. Tetapi juga adalah periode paling mandul di dalam pengembangan ilmu kealaman dan ilmu sosial lainnya. Inilah yang kita maksud dengan kecelakaan sejarah, sehingga pada akhirnya kita yang hidup di belakang hari sekarang ini menerima hukum sejarah. Karena tidak mengembangkan sains dan teknologi dari sejak dulu maka sekarang kita menjadi pilar dari masyarakat dunia yang paling goyah. Termasuk di bidang ekonomi apalagi dalam bidang ilmu pengetahuan.

Kalau kita lihat dalam keadaan sekarang, perosentase umat muslim di seluruh dunia itu mewakili 22,9 % dari seluruh populasi dunia. Jadi hampir ¼ dari kurang lebih 6 miliyar penduduk dunia adalah muslim. Proporsi science and technical manpower-nya hanya mewakili 3,7 % dan research and development manpower-nya hanya 1,1 %. Meskipun 3 universitas terbesar dunia berada di dunia Islam, seperti universitas Qairawan di Maroko, Al-Azhar di Mesir dan Nidzamiyah di Iran, namun, dari 100 universitas terkemuka di dunia tidak satupun yang mewakili dunia muslim. Inilah suatu ironi yang di alami oleh umat Islam sekarang ini.

Salah seorang pengamat dalam tulisannya yang berjudul “Why Don’t The Muslim World Leak In Sains” menyatakan sejumlah faktor penyebab ketertinggalam umat muslim dalam penguasaan sains. Ia menyebutkan ada beberapa hal yang perlu dilakukan oleh Umat Islam. Pertama, melakukan satu usaha jangka panjang. Kedua, mengurangi otoritarianisme dalam sistem kekuasaan. Ketiga, harus ada usaha yang serius untuk merekonsiliasikan keimanan dan akal. Ini beberapa hal yang diusulkan. Memang sekarang ini dunia Islam sedang bergolak, sedang menumbangkan penguasa-penguasa yang otoritarian. Di Indonesia, itu sudah terjadi kira-kira 10 tahun yang lampau, tapi banyak dunia muslim yang sekarang masih dalam situasi itu. Jadi, sebagai prasyarat untuk pengembangan ilmu di lingkungan Umat Islam kita memang harus menempuh jalan yang panjang. Tapi kita tidak boleh pesimis, kita harus optimis. Tidak ada yang mustahil selama kita selalu berdo’a kepada Allah SWT. Oleh karena itu, marilah kita melakukan refleksi ulang terhadap ajaran Nabi, iqra yang memerintahkan kita untuk selalu mengembangkan ilmu pengetahuan.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَ لَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِيْ وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْآيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَ اسْتَغْفِرُوا اللهَ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.



*disampakan pada khutbah tanggal 25 Februari 2011 di Masjid Syuhada Yogyakarta


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

4 Nov 2011

Cara Berqurban dan Esensinya


Oleh: Drs. H. Barmawi Mukri, SH., M.Ag
اَلْحَمْدُ للهِ الَّذِيْ أَنْعَمَ عَلَيْنَا بِنِعْمَةِ الْإِيْمَانِ وَ الْإِسْلَامِ وَهُمَا أَعْظَمُ النِّعَمِ، أَشْهَدُ أَنْ لَااِلَهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ . اَللَّهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى آلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ . اَمَّا بَعْدُ. فَيَاأَيُّهَا الْإِخْوَانُ رَحِمَكُمُ اللهُ أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَاللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ . قَالَ اللهُ تَعَالَى : لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَدِمَاؤُهَا وَلكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ . (الحج : ٣٧)

Jama’ah Jum’ah Rahimakumullah
Alhamdulillah wa syukru lillah, saat ini kita sudah memasuki bulan Dzulhijjah, bulan dimana Umat Islam yang mampu dan diberikan kesempatan, atas izin Allah SWT., sedang menjalankan ibadah haji di tanah suci Makkah. Semoga setelah mereka pulang kembali ke tanah airnya, masing-masing dapat menjadi haji mabrur. Bagi Umat Islam yang mampu secara finansial dan tidak sedang melaksanakan ibadah haji diperintahkan untuk melakukan ibadah kurban, yaitu ibadah berupa penyembelihan hewan kurban. Penyembelihan hewan qurban ini bisa dilaksanakan mulai tanggal 10 Dzulhijjah setelah selesai Shalat Idul Adha sampai tanggal 13 Dzulhijjah sebelum terbenamnya matahari. Ibadah kurban ini ditujukan untuk mendekatkan diri kepada Allah dan mencari keridhoan-Nya dan sebagai bukti orang bertaqwa. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Haj ayat 37 : 

لَنْ يَنَالَ اللهَ لُحُوْمُهَا وَدِمَاؤُهَا وَلَكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوَى مِنْكُمْ كَذَلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَى مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِيْنَ . (الحج : ٣٧)

Artinya :
“Bukan daging dan bukan pula darah ternak kurban yang sampai kepada Allah, tetapi yang diterima adalah ketakwaanmu. Agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang diberikan kepadamu. Dan berikan kabar gembira kepada orang-orang yang selalu berbuat baik. (Q. S. Al-Haj:37)

Para Jama’ah Rahimakumullah
Setelah selesai Shalat Idul Adha pada tanggal 10 Dulhijjah , Umat Islam yang mampu dianjurkan menyembelih hewan kurban berupa unta yang berumur 5 tahun, sapi atau kerbau yang berumur 2 tahun atau kambing yang berumur satu tahun. Binatang ternak yang sah dijadikan kurban adalah binatang unta, sapi, kerbau atau kambing yang sehat, tidak sakit, tidak cacat seperti buta, pincang, dan tidak mempunyai tanduk bagi sapi, kerbau atau kambing.

Penyembelihan hewan kurban mempunyai dua makna, yaitu makna vertikal dan horizontal. Makna vertikal yaitu bahwa penyembelihan hewan kurban itu untuk mendekatkan diri kepada Allah, sedangkan makna horizontal bahwa penyembelihan hewan kurban itu bersifat sosial, yaitu untuk membagikan daging kepada orang fakir dan miskin yang membutuhkan. Harapannya adalah agar terbangun solidaritas sosial.

Dalam pelaksanaan penyembelihan hewan kurban harus dipenuhi tatacara penyembelihan yang islami. Sebaiknya penyembelihan haruslah dilakukan oleh shohibul qurban. Kalau dia tidak bisa menyembelih dia harus menghadiri atau menyaksikan ketika hewan kurbannya itu disembelih. Hewan kurban yang akan disembelih dirobohkan dengan santun, dihadapkan ke kiblat, disembelih dengan pisau yang tajam, disunatkan sebelum menyembelih, penyembelih mengucapkan sholawat, basmallah, takbir dan berdo’a. 

١). بِسْمِ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْ فُلَان ......
٢). اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ بِسْمِ اللهِ وَ اللهُ أَكْبَرُ اَللَّهُمَّ هَذَا مِنْكَ وَ إِلَيْكَ وَ تَقَبَّلْ هَذَا مِنْ ..... ..... .....

Artinya :
1)      Dengan menyebut nama Allah, dan Allah Maha Besar. Ya Allah kurban ini dari seseorang (yakni dari fulan)…
2)      Ya Allah berikanlah rahmat kepada Nabi Muhammad. Dengan nama Allah, Allah Maha Besar, Ya Allah (apa yang hamba kurbankan) ini asalnya dari Engkau dan kembali kepada Engkau, maka itu terimalah hewan kurban ini dari … …

Setelah selesai disembelih dan hewan benar-benar mati, barulah dimulai untuk menguliti. Sohibul Qurban dapat memiliki maksimal sepertiganya dan lainnya dibagikan kepada kaum fakir miskin yang membutuhkan. Pekerja atau panitia berhak menerima bagian sebagai imbalan kerja. Sedangkan kulitnya menurut Sunan Abu Hamzah boleh dijual dan hasil penjualannya disedekahkan atau boleh untuk dibelikan barang yang bermanfa’at, seperti dibelikan kambing untuk dimasak dan dikonsumsi oleh panitia.

Setiap apa yang disyari’atkan Allah seperti penyembelihan hewan kurban tentu ada hikmahnya, antara lain yaitu :
1)      untuk mendekatkan diri kepada Allah;
2)      sebagai pernyataan syukur kepada Allah;
3)      sebagai media untuk menolong kaum fakir dan miskin;
4)      sebagai bukti kerelaan berkurban yang berwujud harta, tenaga dan pikiran.

Para Jama’ah Rahimakumullah
Esensi ibadah kurban yang pertama adalah mengorbankan apa yang dicintai. Dalam konteks Nabi Ibrahim A.S. adalah beliau mengorbankan anaknya yang bernama Ismail. Pengorbanan Nabi Ibrahim merupakan ujian yang besar. Yang disyari’atkan kepada Umat Islam untuk dijadikan kurban adalah hewan unta, sapi, kerbau atau kambing. Intinya sama, semua itu merupakan harta yang berharga bagi manusia.

Esensi ibadah kurban yang kedua adalah sebagai satu lambang agar manusia dapat menghilangkan sifat kebinatangan, yaitu, menghilangkan sifat tidak malu, tamak, rakus, ingin menang sendiri, serta sifat suka melanggar milik orang lain tanpa hak. Diharapkan dengan berkurban itu, kita semua, terutama para pemimpin, dapat menghilangkan sifat kebinatangan sebagaimana tersebut.

Esensi ibadah kurban yang ketiga adalah untuk berbagi kasih sayang kepada orang lain terutama kaum fakir miskin, karena, mereka ini memang membutuhkan pertolongan dan mempunyai hak untuk memperoleh pembagian daging kurban. Ini berarti bahwa berkurban itu mendidik agar seseorang mau mengorbankan kepentingan pribadi demi kepentingan yang lebih besar yaitu kepentingan masyarakat, bangsa, dan Negara.

Demikianlah, mudah-mudahan kita semua, Umat Islam diseluruh dunia diberikan kesempatan bertamu ke Baitullah untuk menyempurnakan rukun Islam yang kelima yaitu Ibadah Haji. Bagi yang belum diberikan kesempatan dan diberikan kemampuan financial, bisa melaksankan ibadah kurban agar bisa semakin dapat meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT. 

بَارَكَ اللهُ لِى وَ لَكُمْ فِى الْقُرْآنِ الْعَظِيْمِ وَ نَفَعَنِىْ وَ إِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلاَيَاتِ وَ الذِّكْرِ الْحَكِيْمِ. أَقُوْلُ قَوْلِى هَذَا وَ اسْتَغْفِرُاللهَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ السَّائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

15 Jun 2011

Kisah dibalik Kelahiran Nabi Agung Muhammad SAW.



Oleh : Prof. Drs. H. Sa’ad Abdul Wahid

Khutbah I
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ. وَ قَالَ فِى سُوْرَةٍ أُخْرَى أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيْلِ اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَ هُمْ فِى تَضْلِيْلٍ وَ أَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيْلٍ فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُوْلٍ.

Jamaah Jum’at Rahimakumullah
Mari kita panjatkan syukur, Alhamdulillah, kepada Allah SWT. yang dengan rahmat dan inayah-Nya kita semua bisa melaksanakan Shalat Jum’at di Masjid Syuhada ini. Kesempatan yang diberikan kepada kita ini adalah karena Allah SWT. masih berkenan  melimpahi nikmat sehat wal’afiat, nikmat istiqamah dalam keimanana dan ketaqwaan serta tawakkal kepada-Nya.

Kaum Muslimin yang dirahmati Allah SWT.
Pada kesempatan yang baik ini, mari kita tingkatkan taqwa kita kepada Allah SWT. dengan taqwa yang sebenar-benarnya, yaitu: (وِقَايَةُ النَّفْسِ مِنْ أَسْبَابِ عَذَابِ اللهِ فِى الدُّنْيَا وَ الْأَخِرَةِ), “Menjaga diri dari segala sebab-sebab siksaan Allah SWT. baik di dunia maupun di akhirat”. Caranya adalah dengan melaksanakan perintah-perintah Allah SWT. dan meningalkan semua larang-larangan-Nya. Insya Allah orang yang bertaqwa akan mendapatkan keberuntungan baik di dunia maupun di akhirat kelak.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Dalam surat Al-Fiil (Q.S. 105: 1), Allah SWT. berfirman:
اَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَابِ الْفِيْلِ
Artinya: “Tahukah engkau wahai Muhammad bagaimana Allah telah memperlakukan tentara-tentara gajah?”

Yang dimaksud dengan tentara-tentara gajah ialah bala tentara yang dipimpin oleh Abrahah. Abrahah adalah Gubernur Yaman yang diangkat oleh Raja Najasi dari Afrika. Pada masa itu, Abrahah telah berhasil mendirikan gereja termegah di dunia. Oleh karenanya, dia mempunyai keinginan dan cita-cita untuk memindahkan Ka’bah dari Makkah ke Yaman. Tujuannya adalah agar orang-orang berhaji ke gereja megah yang didirikannya di Yaman itu. Untuk mewujudkan keinginannya itu, Abrahah berencana menghancurkan Ka’bah di Makkah dengan cara mengerahkan bala tentaranya. Dia sendirilah yang memimpin bala tentara itu. Diceritakan bahwa bala tentara Abrahah dilengkapi dengan kendaraan-kendaraan yang pada waktu itu sangat canggih yaitu dengan gajah-gajah, kuda dan unta.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Rencana ini terdengar oleh sebagian penduduk Makkah. Penduduk Makkah pun melaporkannya kepada tetua, yaitu orang yang dianggap sesepuh pada waktu itu yang bernama Abdul Muthalib. Maka setelah tentara Abrahah ini sampai ke Thaif, Abdul Muthalib naik ke sebuah bukit untuk melihat apakah yang telah terjadi di Thaif itu. Dia melihat pada waktu itu, banyak sekali hewan-hewan turun dari langit menuju ke Thaif. Beliau perintahkan kepada salah seorang anaknya, Abdullah yang adalah ayah Nabi Muhammad SAW. untuk pergi ke Thaif. Abdullah pun dengan segera  memacu kudanya ke Thaif untuk melihat apa yang telah terjadi di situ. Ternyata, di Thaif itu banyak sekali bangkai-bangkai manusia, binatang-binatang seperti kuda, unta dan gajah-gajah yang dipimpin oleh Abarahah. Abrahah Sang Gubernur Yaman pun termasuk salah korban pada waktu itu.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Mengapa Allah SWT. memperlakukan Abrahah dan tentara-tentaranya hingga menjadi hancur? karena Allah SWT. ingin menyelamatkan kelahiran Rasulallah SAW. dan menjaga kesucian rumah-Nya, Ka’bah di Mekkah.

Pada ayat berikutnya (Q.S. Al-Fiil ayat 2) Allah berfirman:
اَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَ هُمْ فِى تَضْلِيْلٍ
“Tidakkah Allah menggagalkan reka daya (Abrahah) itu?”
Inilah yang disebut dalam suatu tafsir misalnya Tafsir oleh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha dan sebagainya bahwa Abrahah itu dihancurkan oleh Allah SWT.

Pada ayat berikutnya (QS al-Fil ayat 3) Allah berfirman:
وَ أَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيْلَ
“Burung-burung itu dikerahkan, dikirim oleh Allah kepada mereka berbondong-bondong”.
Muhammad Abduh dalam tafsirnya berpendapat bahwa yang dimaksud burung dalam ayat ini adalah virus yang membawa penyakit cacar. Sehingga yang dikhabarkan melalui ayat ini bahwa bala tentara Abrahah terkena penyakit cacar hingga meninggal dunia. Barangkali jika kita lihat sekarang, bisa juga sang burung dalam ayat ini kita tafsirkan sebagai burung-burung yang sangat ganas yang menghacurkan tentara-tentara gajah tersebut.

تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ مِنْ سِجِّيْلٍ
Dalam ayat berikutnya (Q.S. Al-Fiil ayat 4) dikabarkan bahwa burung-burung itu melempari mereka, tentara-tentara gajah itu dengan batu-batu dari Neraka Sijjiil. Batu-batu inilah yang menurut Muhammad Abduh dikatakan sebagai virus-virus yang dikirimkan Allah SWT. untuk menghancurkan tentara-tentara gajah itu. 

فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَأْكُوْلٍ
 “Kemudian Allah SWT menjadikan mereka seperti rumput-rumput yang dimakan oleh ulat”. (Q.S. Al-Fiil ayat 5). Mereka hancur lebur karena diserang oleh penyakit-penyakit pada waktu itu.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Limapuluh hari kemudian setelah peristiwa itu, lahirlah Rasulallah SAW. Namun, Rasulallah SAW. tidak bisa melihat ayahnya karena telah meninggal ketika pulang dari Yatsrib ke Makkah. Pada waktu itu Abdullah diutus oleh ayahnya untuk mengirimkan dagangan-dagangan ke Yatsrib. Pada saat kepulangannya dari Yatsrib ke Makkah beliau diambil oleh Allah SWT. Sehingga Rasulallah SAW dilahirkan dalam keadaan yatim, tidak sempat bertemu dengan ayahandanya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Kelahiran Rasullah inilah yang oleh kaum muslimin di dunia sering diperingati. Para Ulama berpendapat bahwa kelahiran Rasulallah SAW itu jatuh pada tanggal 12 Rabi’ul Awwal (21 April 571 M). Hari itulah kaum muslimin memperingati hari lahir Rasulallah SAW. Pada masa Sahabat, Tabi’in maupun Tabi’ut-tabi’in memang belum pernah ada peringatan kelahiran Nabi ini. Menurut sejarahwan, peringatan ini mulai dilakukan setelah Perang Salib pada masa Khalifah Salahuddin Al-Ayyubi. Peringatan hari kelahiran Nabi ini dimaksudkan untuk mempersatukan umat, mempersatukan kekuatan agar supaya Umat Islam mempunyai kekuatan yang luar biasa, sehingga ditakuti oleh musuh-musuhnya pada waktu itu. Sejak saat itulah peringatan-peringatan kelahiran Rasullah SAW. dilakukan hingga sekarang ini.

Beberapa hal yang sangat disayangkan adalah bahwa kadang-kadang peringatan kelahiran Rasulallah SAW. ini dibarengi dengan kemusyrikan-kemusyrikan. Padahal Rasulallah SAW. adalah Nabi yang sangat gigih memberantas kemusyrikan-kemusyrikan seperti itu. Baik ketika masih kecil, sebelum diangkat menjadi Nabi, sampai kepada masa beliau menjadi Nabi Allah SWT.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Oleh karena itu, jika kita hendak memperingati Hari Kelahiran Rasulillah SAW., sebaiknya bukan keramaian-keramaian yang diadakan tetapi kita teladani apa yang telah dilakukan oleh Rasulallah SAW. Tinggalkan hal-hal yang mungkin dapat menjerumuskan kita kepada kemusyrikan sekecil apapun, dan segala hal yang dilarang oleh Allah dan Rasul-Nya.

Kaum Muslimin Rahimakumullah
Itulah yang dapat saya sampaikan pada khutbah ini, semoga khutbah yang singkat ini dapat diambil hikmah dan pelajarannya.
رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَىنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.


Khutbah II
إِنَّ الْحَمْدَ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَ نَسْتَعِيْنُهُ وَ نَسْتَغْفِرُهُ وَ نَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَ مِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِي اللهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَ مَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. يَا أَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات. رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَىنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَ إِلَيْكَ أَنَبْنَا وَ إِلَيْكَ الْمَصِيْرَ. وَ الْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.

   

Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

12 Mei 2011

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan


Senin (2/5) terlihat syuhada-syuhada cilik berbaris rapi, berjalan dalam 2 barisan sambil tiap-tiap mereka menenteng sebuah bingkisan, patuh mengikuti instruksi Ibu Guru yang mendampingi mereka. “Ayo, hati-hati jalannya ya…” lembut sang guru.
Anak-anak TKMS Full Day Class berbaris didampingi Ibu Guru dan Petugas Keamanan

Pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini (2011), TK Masjid Syuhada Yogyakarta (TKMS) mengisinya dengan program Bakti Pendidikan. Program yang di dukung penuh oleh orang tua / wali siswa/siswi TKMS ini berupa pemberian paket alat tulis kepada anak-anak yang tinggal di bantaran Kali Code yang berlokasi persis di belakang TKMS.
Kepala TKMS memberikan paket bantuan secara simbolis kepada Ketua RT 18 Kali Code

Seorang siswa TKMS sedang memberikan peket bingkisan

Menurut Kepala TKMS, Umi Kulsum program ini semata-mata sebagai bentuk silaturrahim dan mengenalkan siswa/siswi TKMS kepada anak-anak yang bertetangga dengan sekolahnya. “Selain untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS” ujar beliau.

Selain sejumlah anak-anak, turut hadir pada acara itu Ketua Rt. 18 beserta sekretarisnya dan beberapa warga sekitar. Dalam sambutannya, Soegeng, Sekretaris Rt. 18 mengucapkan terima kasih kepada TKMS atas bantuan pendidikan yang diberikan dan berharap silaturrahim seperti ini terus berlanjut untuk mendukung pendidikan anak-anak sekolah di bantaran Kali Code. 
Soegeng, Sekretaris RT 18 saat memberikan sambutan
Bantuan sekira 60 paket alat tulis juga diberikan untuk anak-anak yatim /piatu di desa Tobayan, Sleman.



Reportase oleh:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

3 Mei 2011

Menuju Masyarakat Madani yang Dicontohkan Nabi

oleh: K.R.T. H. Ahmad Mukhsin Kamaludiningrat

Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا, أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّااللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوالْعِزَّةِ وَالْقُوَّةِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَكُلِّ مَنِ اتَّبَعَ اللهُ الْهُدَى, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِي وَ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah S.W.T yang telah memberikan berbagai kenikmatan yang kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat dan karunia yang tidak terhitung itu. Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim : 34.

وَ اَتَكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ اْلِإنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.

Nikmat yang sering kita lupakan adalah nikmat sehat dan kesempatan. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

نِعْمَتَانِ مَعْبُوْلٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَغُ. (رواه البخاري)
“Ada dua kenikmatan yang sebagian besar manusia lalai yaitu nikmat sehat dan kesempatan”.
Dengan kesehatan dan kesempatan itulah pada hari ini kita bisa melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Syuhada yang kita cintai ini.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S.Ibrahim : 7

وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari Jumat tanggal 8 Rabiul Awwal atau Bulan Maulud tahun 1432 Hijriyah dan Insya Allah empat hari lagi yaitu tanggal 15 Februari 2011 kita akan memperingati maulid Nabi Muhammad S.A.W. Bulan Rabiul Awwal ini adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W dan telah menjadi budaya kita Bangsa Indonesia, hari kelahiran Nabi tersebut diperingati sebagai Hari Besar Umat Islam dan oleh pemerintah dijadikan Hari Libur Nasional. Padahal menurut tuntunan ajaran Islam hari raya itu hanya ada dua: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Maka tidak mengherankan jika ada yang mengatakan peringatan maulud nabi itu adalah bid’ah. Bolehlah disebut bid’ah tapi Bid’ah Hasanah. Bid’ah yang baik. Artinya, memang suatu kreasi Umat Islam.

Peringatan Maulid Nabi ini tidak hanya menjadi budaya Bangsa Indonesia tetapi juga merupakan kebudayaan yang berkembang di Timur Tengah bahkan sudah diperingati sejak zaman kekhilafahan terakhir Umat Islam yaitu Khilafah Utsmaniyah di Turki.

Kita peringati hari maulid Nabi ini demi untuk dakwah. Sebagaimana yang dimaksudkan pada pelaksanaan peringatan maulid ini pertamakalinya, tujuannya tiada lain adalah untuk dakwah, untuk menggairahkan Umat Islam terhadap agamanya dan meneladani Rasulullah S.A.W karena pada diri Rasulullah itu terdapat contoh / suri tauladan yang baik (uswatun hasanah). Sebagaimana firman Allah S.W.T dalam Q.S. al-Ahzaab : 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ أُسْوةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut dan mengingat Allah”.

Keteladanan Rasulullah yang akan kita kupas pada Khutbah Jumat kali ini adalah: “Bagaimana Rasulullah S.A.W Membangun Masyarakat yang Beriman dan Bertaqwa yang Menghasilkan Barakah dan Kesejahteraan dari Langit dan Bumi”.

Bangunan masyarakat yang beriman dan bertaqwa oleh Rasulullah diawali dengan hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-11 kenabian atau tahun ke-1 hijriyah. Masyarakat negeri yang beliau wujudkan adalah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban (bertamadun). Yatsrib yang artinya Kota Penyakit adalah nama tempat hijrah Nabi, tetapi setelah Nabi hijrah dan tinggal di tempat itu, nama Yatsrib oleh Rasulullah S.A.W diganti dengan nama Madinah. Artinya, Kota yang berbudaya, bertamaddun.

Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Apa yang dilakukan Rasulullah setelah pindah / hijrah ke Madinah sebagai awal pembangunan masyarakat madani? masyarakat yang beriman dan bertaqwa?

Pertama, Memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Persatuan umat adalah salah satu syarat taqwa yang sebenarnya (حَقَّ تُقَاتِهِ) disamping berpegang teguh kepada al-Quran (حَبْلِ اللهِ). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Q.S. Ali Imran : 102 - 103.

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسلِمُوْنَ. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ.
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah sekal-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102) dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah menjinakan antara hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Ayat 103 ini memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan “sebenar-benarnya taqwa” (حق تقاته  ). Serta ayat 102 yang menerangkan tentang larangan mati sebelum dalam keadaan Islam. Yaitu berpegang teguh kepada tali Allah (al-Quran) dan tidak bercerai-berai. Yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai modal utama pembangunan masyarakat.

Yang kedua, Nabi Muhammad SAW membangun masjid di Madinah yang sekarang disebut sebagai Masjid Nabawy. Dari masjid itulah Nabi membina masyarakat dalam segala aspek kehidupan, keimanan dan ketaqwaan. Bahkan dari masjid itu pula nabi mengendalikan Negara Madinah. Nabi beristana di sana, angkatan perang juga dikonsentrasikan di sana, sekaligus sebagai Markas Besar Tentara Islam.

Yang ketiga, Mengganti nama Kota Yatsrib menjadi Madinah. Nama Madinah dipakai sebagai motivasi untuk masyarakat agar  menjadi masyarakat yang madani, yang maju, sejahtera, berbudaya dan berperadaban.

Yang keempat yang dilakukan oleh Nabi adalah Nabi menyadari bahwa masyarakat Madinah adalah masyarakat yang majemuk (bhineka), maka Nabi S.A.W membuat Piagam Madinah yang sangat terkenal sebagai undang-undang dasar pengaturan masyarakat yang majemuk tersebut. Majemuk dalam hal agama, budaya dan suku bangsa. Dalam masyarakat yang majemuk inilah diatur dan dikembangkan semangat kebersamaan dan toleransi (tasammuh) sebagai kunci keberhasilan pembangunan masyarakat madani.           
Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Empat hal tersebut yang dapat kita ambil contoh / uswah yang baik,  yang hasanah kalau kita ingin membangun masyarakat yang beriman dan bertaqwa yang memperoleh barakah dan kesejahteraan dari langit dan bumi, sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. al-A’araaf : 96 sebagai berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى اَمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Berbagai musibah yang menimpa bangsa dan masyarakat kita akhir-akhir ini kalau kita kembalikan kepada ayat tersebut adalah (mungkin) dikarenakan masyarakatnya kurang beriman dan bertaqwa, mungkin itu. Kemaksiatan dan kemungkaran banyak terjadi. Korupsi, perselingkuhan, porno-grafi, porno-aksi, narkoba, perjudian dan sebagainya.

Musibah yang merupakan siksaan dari Allah itu memang tidak hanya menimpa kepada orang yang bermaksiat saja, tetapi dapat tertimpa pula kepada seuruh masyarakat yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan. Oleh karena itulah Islam mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Kalau terjadi kemaksiatan dan kemunkaran menjadi tanggungjawab bersama kita semua untuk mencegahnya dan memperbaikinya menjadi amal yang makruf, yang baik yang sesuai dengan tuntunan agama.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S. Ali Imron : 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah golongan orang-orang yang beruntung”.

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara aktif dengan mendatangi jama’ah. Ini mungkin sedikit kekeliruan kita yang harus dievaluasi. Dakwah kita selama ini menunggu jama’ah. Yang mau datang ke masjid, merekalah yang mendapat dakwah. Tapi yang tidak pernah datang ke masjid atau ikut pengajian tidak pernah dapat. Maka sesungguhnya dakwah yang strategis, yang tepat sesuai tuntunan al-Quran adalah kita datangi mereka.

Dalam Q.S. Ali Imron : 110 Allah S.W.T berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ اَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.
“Kamu sekalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyaan mereka adalah orang-orang yang fasiq”.

Dalam ayat ini Allah SWT memberikan predikat kepada Umat Islam sebagai umat terbaik yang siap dikirim untuk keluar, untuk berdakwah menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar serta beriman kepada Allah. Jadi kesimpulan dari ayat ini saya kira bahwasanya kita harus merubah metode dakwah kita. Dari yang biasanya menunggu menjadi aktif mendatangi masyarakat dan mendakwahkan Islam.
Untuk mengefektifkan dakwah, membina masyarakat yang beriman dan bertaqwa berbasis masjid tersebut, maka Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta telah mencanangkan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah.

Kita ingat bahwasanya Masjid Syuhada ini sebetulnya dibangun oleh NKRI yang hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Panitia pendiriannya adalah Bung Karno, Bung Hatta, Mr. Asaat dan sebagainya. Jadi, menurut saya Masjid Syuhada ini fungsi dan tugasnya sebagai duplikat dari Masjid Nabawy di Madinah. Jika dilihat dari tata arsitekturnya memang beda, tetapi nilai-nilai historisnya hampir sama. Masjid ini adalah masjid revolusi, masjid yang inisiatif pembangunannya pada saat NKRI hijrah ke Yogyakarta. Sangat terkenal pada waktu itu, Ketua Pendirian Masjid Syuhada adalah Mr. Asaat yang pada waktu itu sebagai Presiden Negara Bagian Republik Indonesia-Yogyakarta.

Oleh karena itu kalau MUI mengusulkan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah dan Masjid Syuhada sebagai centra Masjid Madani-nya Yogyakarta saya kira cukup tepat. Memang Masjid Syuhada ini mengemban sejarah. Saya masih terkenang, ketika Masjid Syuhada ini pertamakali dibangun banyak sekali kegiatan-kegiatan yang luar biasa dan sangat-sangat maju manajemen pengelolaannya.

Dalam Amanat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Ngarso Dalem Ingkang Sinuwun Hamengku Buwono X dalam Amanat Pembukaan Rapat Kerja Daerah MUI Hari Sabtu tanggal 29 Januari Tahun 2011 yang dimuat dalam Surat Kabar Kedaulatan Rakyat tanggal 5 Februari 2011 di halaman 2, Beliau sangat mendukung gagasan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah bahkan beliau menegaskan bahwa dengan predikat itu justeru dapat mendukung Keistimewaan Yogyakarta yang RUU -nya saat ini sedang dibahas di DPR RI.

Pembinaan keimanan dan ketaqwaan tersebut dilakukan oleh MUI D.I Yogyakarta melalui masjid-masjid yang tersebar di seluruh wilayah D.I Yogyakarta yang jumlahnya tidak kurang dari 6.175 Masjid termasuk salah satunya Masjid Syuhada ini.

Bagi MUI adanya predikat Yogyakarta sebagai Serambi Madinah ini adalah peluang untuk dakwah. Bukan apa-apa, bukan politik, bukan Ormas tetapi peluang untuk dakwah membina keimanan dan ketaqwaan masayarakat D.I. Yogyakarta karena dengan keimanan dan ketaqwaan itulah Allah akan membukakan barakah dari langit dan bumi sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. Al-Ahzab : 96 tersebut. Semoga dengan nama Yogyakarta Serambi Madinah dapat memberikan dorongan kepada masyarakat uuntuk maju menjadi masyarakat yang berbudaya, berperadaban menuju masyarakat madani yang kita cita-citakan bersama.

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ اسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا لِْأَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ  الْكَافِرِيْنَ. اَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ مُوْجِبَةِ رَحْمَتِكَ وَأَدَاءِ إِمَامَ أَخِرَتِكَ وَ سَلَامَةً مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.                    
 
      
Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta