Perdana di 2012, Kajian Ahad Pagi Masjid Syuhada

Meski kondisi lembaga dakwah ini sedang dalam masa transisi (belum terlaksananya pergantian kepengurusan), Mardinus...

Amanat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI

...pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap...

Islam Agama Ilmu Pengetahuan

Tidak ada kata dalam Islam yang menyamai kata Al-’Ilm dalam kedalaman makna dan keluasan penggunaannya. Bahkan, ...

Profile Masjid Syuhada

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta, berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda...

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan

... program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS...

Pages

7 Mar 2011

"Berlaku Jujur: Menjauhi Bohong"


Oleh: Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., M.A
(Ketua PP Muhammadiyah)
(Foto: Tribun News.com)

اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, وَمَنْ تَبْعَ هُدَىهُ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ الْمَلِكُ الْحَقُّ الْمُبِيْنُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً رَسُوْلُ اللهِ الْمَبْعُوْثُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ.
فَيَا عِبَادَ اللهِ أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Marilah kita senantiasa bersyukur ke Hadirat Allah S.W.T yang selalu melimpahkan rahmat dan karunia-Nya kepada kita semua. Kemudian shalawat dan salam semoga dilimpahkan Allah kepada Nabi Besar Muhammad S.A.W dan kepada keluarganya, sahabat-sahabatnya dan siapa saja yang mengikuti sunnah beliau sampai akhir nanti.
Rasulullah saw bersabda:

عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ وَ إِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ.
“Hendaklah kamu semua bersikap jujur karena kejujuran itu membawa kepada kebaikan dan kebaikan itu mengantarkan ke syurga”.
Jujur atau al-sidqu yaitu benar baik dalam perkataan (shidq al-hadiist), janji (shidq al-wa’di), pergaulan (shidq al-muaamalah), maupun dalam sikap (shidq al-haal). Kita harus bersikap jujur, benar. Selanjutnya Rasulullah S.A.W mengingatkan:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِيْ إِلَى الْفُجُوْرِ وَ إِنَّ الْفُجُوْرَ يَهْدِيْ إِلَى الْنَّارِ.
“Hendaklah kamu menjauhi kebohongan karena kebohongan membawa kepada perbuatan dosa, membawa kepada kejahatan dan kejahatan akan mengantarkan ke dalam neraka”.
Pada suatu ketika Rasulullah S.A.W ditanya oleh seorang sahabat:
“Katakanlah kepadaku wahai Rasulullah, Bisakah seorang mukmin itu penakut? Rasul menjawab: bisa. Ditanya lagi, bisakah orang mukmin itu kikir, pelit? Rasul menjawab: bisa. Ditanya lagi: bisakah seorang mukmim itu pendusta. Rasul menjawab: tidak.
Walaupun penakut dan kikir adalah sifat tercela, Rasulullah S.A.W masih mentolerir dan tidak menafikan iman orang tadi. Tapi saat ditanya apakah bisa mukmin itu pendusta Rasulullah S.A.W menjawab tidak.
Oleh sebab itu di dalam Ilmu Hadits salah satu syarat hadits itu bisa diterima adalah apabila perawinya orang tsiqqah / tsaabit : orang yang dapat dipercaya, dan apabila perawinya bersifat adil (‘uduul, ‘adaalah).
Pengertian adil dalam Ilmu Hadits berbeda dengan adil dalam Ilmu Hukum. Adil dalam Ilmu Hadits adalah tidak pernah melakukan dosa besar dan tidak sering melakukan dosa kecil.
Salah satu dosa besar yang merusak ke-adil-an (‘adaalah) seorang perawi adalah berdusta. Oleh sebab itu jika sebuah hadits diriwayatkan oleh seorang perawi yang pendusta maka haditsnya ditolak, dinyatakan dhaif dalam kategori munkar, nama haditsnya disebut Hadits Munkar. Tapi kalau perawinya itu hanya dituduh berdusta (muthamun bilkadzib) maka haditsnya tetap ditolak, status haditsnya matruk, ditinggalkan. Nama haditsnya disebut Hadits Matruk. Jadi seorang perawi itu harus benar-benar orang yang bukan pendusta dan tidak ada seorang pun yang menuduh dia  sebagai pendusta.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Suatu saat Imam Bukhari dalam perjalanannya meneliti hadits (proses kodifikasi awal) dari satu negara ke negara lain, untuk ukuran sekarang, atau pada waktu itu dari satu propinsi ke propinsi lain, dan dari satu kota ke kota lain. Imam Bukhari bisa menempuh perjalanan berhari-hari menaiki unta hanya untuk meneliti satu hadits.
Suatu ketika, sampailah beliau di rumah seorang perawi hadits,  yang kebetulan waktu itu sedang sibuk dengan kudanya. Rupa-rupanya kuda si Perawi lari, ingin kabur. Dia panggil-panggil kuda itu sambil membawa sebuah ember ditangannya. Imam Bukhari menyapanya dan  bertanya: “Apa yang sedang engkau lakukan?” Si Perawi menjawab: “Saya sedang membujuk kuda itu agar kembali. Bagaimana caranya? Dengan memperlihatkan ember ini. Kata si Perawi. Apa isi ember itu? Tidak ada isinya. Jadi, si perawi tadi hanya pura-pura akan memberikan makanan pada kuda itu. “Oh, begitu ya, terimakasih”. Lalu Imam Bukhari pamit. Sesampainya beliau dirumah, beliau coret nama orang tadi sebagai perawi hadits yang tengah ditelitinya. Dan Imam Bukhari mengatakan: “Saya tidak akan pernah percaya dengan orang yang berbohong kepada kudanya”.
Berbohong kepada kuda saja sudah ditolak oleh Imam Bukhari dan dianggap tidak layak menjadi perawi hadits. Sekiranya saja sekarang Imam Bukhari menjadi anggota DPR misalnya, kemudian beliau menjadi petugas fit and proper test, saya kira tidak ada seorang pun yang akan lolos dari seleksi Imam Bukhari.
Jangankan berbohong kepada istri, berbohong kepada murid dan mahasiswanya, berbohong kepada masyarakat dan rakyatnya, berbohong kepada seekor kuda pun ditolak oleh Imam Bukhari. Memang banyak sekarang orang yang bernama Bukhari, tetapi sama sekali tidak sama dengan Imam Bukhari.
Sebenarnya para ulama menasihatkan kepada kita agar jangan berbohong untuk pertama kali. Jadi yang dilarang hanya berbohong untuk yang pertama kali. Mafhumnya, kalau anda tidak berbohong untuk yang pertama kali maka tidak akan ada bohong yang kedua, tidak akan ada bohong yang ketiga dan setreusnya. Tapi kalau anda bohong satu kali saja maka akan ada bohong kedua, ketiga dan seterusnya untuk menutupi kebohongan yang pertama.
Contoh kasus misalnya, kita membuat suatu perjanjian dengan seorang teman untuk bertemu pada hari, jam dan tempat yang telah ditentukan. Pada saatnya tiba, ternyata teman tadi tidak datang. Kemudian besok kita tagih dia, kita tanya kenapa dia tidak datang? Kalau saja dengan jujur dia menjawab: ”Wah maaf saya ingkar janji” misalnya, mungkin kita akan segera memaafkannya. Tapi dia tidak mau jujur, misalnya. Maka mulailah dia berbohong “Wah maaf ya kemarin saya sakit” berbohong satu kali. Kita tanya lagi sakit apa? “Badan saya panas” berbohong dua kali. Kita tanya lagi sudah dibawa ke dokter atau belum? ”Sudah”, berbohong tiga kali. Dokter mana? “Dokter Rumah Sakit PKU”. Siapa dokternya? “Dokter Iqbal”. Apa kata dokter? Periksa darah atau tidak? obatnya berapa? Dan seterusnya. Sebelum kita berhenti bertanya ia tidak akan berhenti berbohong. Oleh karena itu bohong akan mempunyai anak, mempunyai cucu dan cicit.
Karenanya sebagaimana yang dinasihatkan para ulama tadi: “Jangan berbohong untuk yang pertamakali”. Apalagi kalau kemudian bohong menjadi sebuah kegemaran. Jikalau bohong sudah menjadi sebuah kegemaran maka pada orang yang seperti itu melekat suatu sifat dari sifat munafik. Seperti yang disabdakan Rasulullah S.A.W:

أَيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ: إِذَا حَدَثَ كَذَبَ وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ وَإِذَاتُؤْمِنَ خَانَ.
“Tanda-tanda orang munafik itu ada tiga: jika berbicara ia berdusta. Jika berjanji ia ingkar dan jika diberikan kepercayaan ia berkhianat”.

Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Maka marilah kita mulai dengan diri kita sendiri untuk bertekad akan selalu jujur, berkata benar, bertindak benar dan samasekali menjauhkan diri dari kebohongan. Dan mari kita perluas, kita tularkan kejujuran itu kepada keluarga kita. Insya Allah kalau kejujuran ini bisa dikembalikan kepada bangsa ini, kita masih punya harapan Indonesia masih bisa diperbaiki. Tapi kalau kebohongan masih ditutupi dengan kebohongan-kebohongan lainnya maka tentu kita tidak akan bisa memperbaiki keadaan yang karut-marut seperti sekarang ini.
  
اَلْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ, نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لَا شَريْكَ لَهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدً عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. يَاَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْااتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
Kaum Muslimin Sidang Jumat yang berbahagia,
Marilah kita selalu meningkatkan iman dan taqwa kita kepada Allah S.W.T dengan mengerjakan segala perintah-Nya, meninggalkan segala larangan-larangan-Nya dan mengikuti petunjuk-petunjuk-Nya. Semoga Allah memberikan kepada kita hasanah di dunia ini dan hasanah di akhirat nanti dan Allah menjauhkan kita dari adzab api neraka.

إِنَّ اللهَ وَمَلَئِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ, يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيْمَ وَعَلَى اَلِ إِبْرَاهِيْمَ إِنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَلِوَالِدَيْنَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا, وَلِجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَات, وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَات, اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَات, وَجَمِيْع أَعْمَالِنَا بِرَحْمَتِكَ يَا مُجِيْبَ السَّائِلَات. رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا, وَسُجُوْدَنَا وَرُكُوْعَنَا, بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ سَلاَمَةُ فِى الدِّيْنِ, وَعَافِيَةُ فِى الْجَسَدِ, وَزِيَادَةً فِى الْعِلْمِ, وَبَرَكَةً فِى الرِّزْقِ, وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ, وَرَحْمَةُ عِنْدَ الْمَوْتِ, وَ مَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ هَوِّنْ عَلَيْنَا فِى سَكَارَةِ الْمَوْتِ. اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا, وَ قَلْبًا خَاشِعًا, وَ رِزْقًا حَلَالًا طَيِّبًا, وَشِفَاءً مِنْ كُلِّ دَاءٍ وَ سَقَمٍ. رَبَّنَا اَتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَة وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَىنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَىنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ, وَأَدْخِلْنَا الْجَىنَّةَ مَعَ الْأَبْرَارِ. يَا عَزِيْزُ, يَا غَفَّارُ, يَا رَبَّ الْعَالَمِيْنَ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. وَأَقِمِ الصَّلَاةَ! 

Masjid Syuhada,Yogyakarta 28 Januari 2011


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta
       

6 Mar 2011

Tokoh-tokoh dibalik Pendirian Masjid Syuhada

SUSUNAN PANITIA MASJID SYUHADA YANG PERTAMA

Ketua: Mr. Assaat
Wk. Ketua & Pemimp. Keuangan: Bandoro Pangeran Hario Prabuningrat
Sekretaris: A. Jatim
Bendahara: M. J. Prawirojuwono
Pimpinan Bangunan: Ki Moesa Machfoeld
Pimpinan Usaha Keuangan: R. H. Benjamin
Pimpinan Bagian Pemeliharaan: H. Dalhar Bkn
Pembantu: H. Ahmad Seman
Mr. R. A. Kasmat
Lanto
Dr. Maas
Mahmud Latjuba
M. Iljas
R. Djen Mohammad
Mr. Tirtawinata
Z. A. Ahmad
Gusti Djohan

]o[

PERJALANAN KEPANITIAN & PERUBAHAN-PERUBAHANNYA

14 Oktober 1949: Let. Kol. Soeharto masuk keanggotaan panitia
: Urusan Pemelihara dan Teknik dijabat Ki Moesa Machfuld
: Urusan Neon & Khatib dijabat R. H. Dalhar dan R. H. Benjamin
21 Oktober 1949: Kesekretariatan dijabat A. Jatim dan Z. A. Ahmad
: Pengumpulan uang/Propaganda dijabat R. H. Benjamin, Lanto, R. Djen Mohammad, Ki Moesa Machfoeld, M. Iljas.
Keuangan dijabat B. P. H. Prabuningrat, M. J. Prawirojuwono, Mahmud Latjuba
Pembangunan dijabat Ki Moesa Machfoeld, Mr. R. A. Kasmat, M. Iljas, Dr. Maas
Pemeliharaan dijabat R. H. Dalhar, Lanto, Gusti Djohan
30 Oktober 1949: H. A. Saeman menjadi Anggota Bagian Keuangan
Pengurus Harian dijabat Mr. Assaat, B. P. H. Prabuningrat, Ki Moesa Machfuld, R. H. Benjamin, R. H. Dalhar, A. Jatim.
1 September 1949: Teks Perspektus oleh Mr. Assaat, Ki Moesa Machfuld, R. H. Benjamin
20 September 1949: Penitia Juri oleh R. M. Abikusno, Purbodiningrat, Menteri Agama, R. W. Djajeng Asmoro, Ir. Mertonegoro
12 Desember 1949: Ki Moesa Machfuld a.n. Panitia memberikan pandangan tentang Masjid yang akan didirikan. Mengingat bahwa gambar-gambar (sketsa, red.) menurut ketua kurang memenuhi keperluan; Memilih satu gambar yang ada selanjutnya dibuatkn Ontwrep sendiri.
: Panitia Juri diganti namanya menjadi Panitia Penasihat
1 Januari 1950: Urusan Ketegasan Tanah dijabat Mr. R. H. Kasmat dan A. Jatim
13 Januari 1950: Penyelesaian gambar untuk dibuatkan klise oleh Ki Moesa Machfuld
29 Januari 1950: Wk. Ketua menandatangani pengeluaran uang berhubung kepindahan Ketua ke Jakarta. Prospektus yang ke-2 dicetak di Semarang oleh Ki Moesa Machfuld
26 Februari 1950: Menambah Anggota untuk mengganti yang pindah ke Jakarta
-          K. R. T. Ir. Purbodiningrat
-          R. M. Iskandar Idris
-          H. S. Adenan
-          Ir. Tarip A. Harahap
5 Maret 1950                      : Panitia Kecil untuk membuat bestek dan begroting sebagai berikut:
-          K. R. T. Ir. Purbodiningrat
-          M. J. Prawirojuwono
-          H. S. Adenan
-          Ir. Tarip A. Harahap
: Bagian Propaganda / Usaha Keuangan dilengkapi oleh
-          R. H. Benjamin
-          Ki Moesa Machfuld
-          I. Iljas
-          H. Ahmad Seman
-          R. H. Iskandar Idris
2 Juli 1950 : Pengganti alm. R. H. Benjamin selaku Ketua Usaha Keuangan adalah R. H. Dalhar
Bagian Pembangunan diperbaharui:
-          Ir. Purbodiningrat
-          Ir. T. A. Harahap
-          H. S. Adenan
-          M. J. Prawirojuwono
23 Juli 1950: Mahmud L. Latjuba diangkat sebagai Sekretaris
Bagian Usaha / Propaganda ditambah H. A. Adenan
20 Agustus 1950: Pendirian Masjid Syuhada dikerjakan sendiri oleh Panitia.
Cara menyelenggarakannya dengan jalan Direksi Bg. Pembangunan dihapuskan
2 September 195 : Menentukan Direksi / bersifat perbendaharaan
-          H. Anwar Noto
-          H. Zaini Ws
-          H. Basiran Noto
2 Maret 1951: Bg. Penerangan dijabat R. H. Dalhar dan Ki Moesa Machfudl
9 September 1951: Persiapan Peletakan Batu Pertama,
Sub. Penerimaan Tamu:
-          R. Mh. Suhodo
-          H. M. Badawi
-          H. A. Hanad
-          R. H. Farid Ma`ruf
-          R. Mh. Saleh
Sub. Undangan
-          M. J. Prawirojuwono
-          S. Sumodisastro
-          P. B. P. I. I (Pengurus Besar Pelajar Islam Indonesia, red.)
-          P. I. I. Daerah ( Pelajar Islam Indonesia Daerah, red.)
Sub. Sidang dan Hidangan
-          P. I. I (Pelajar Islam Indonesia, red.)
-          H. M. I (Himpunan Mahasiswa Islam, red.)
Sub. Jamuan
-          M. J. Prawirojuwono
-          Bachri Sirat
Sub. Kurban
-          H. Dalhar
-          M. Sukapdi
-          M. Dawam
Sub. Pawai
-          H. W. (Hizbul Wathan, red.)
Sub. Dokumentasi
-          R. Sumardi
25 April 1952: Pengumpulan Dokumentasi oleh Z. A. Ahmad dan kesan-kesan dari Mr. Assaat
4 Agustus 1952: Penerbitan Buku Riwajat/Sedjarah Pembangunan Masdjid Sjuhada`, diserahkan kepada Z. A. Ahmad. Z. A. Ahmad mendadak pergi ke Makkah sehingga tugasnya terpaksa diserahkan kepada Panitia di Yogyakarta. Oleh Panitia di Yogyakarta tugas menyusun buku ini dibebankan kepada saudara-saudara: 1). A. Jatim; 2). Ismuha; 3). Anwar Alwi; 4). Mohd. Djananz.


Sumber: Buku Kenang2an MASDJID SJUHADA. 20 September 1952/1 Muharram 1372.

Profile Masjid Syuhada Yogyakarta

Masjid Syuhada Yogyakarta (arah muka)

Alasan didirikannya Masjid Syuhada
  1. Bersifat khusus, sebagai Masjid Jami’ untuk memenuhi kebutuhan Umat Islam untuk beribadah kepada Allah.
  2. Bersifat umum, sebagai monumen yang hidup dan bermanfaat untuk memperingati para syuhada (pahlawan yang gugur syahid) yang memperjuangkan kemerdekaan bangsa, mempertahankan kebenaran dan keadilan
  3. Sebagai tanda mata peninggalan, kenang-kenangan untuk Yogyakarta yang pernah dijadikan sebagai ibukota negara, ibukota perjuangan.
Sejarah Berdirinya Masjid Syuhada
  • Masa penjajahan Belanda, Kotabaru dihuni oleh orang-orang kulit putih, orang-orang Indonesia kelas atas/kaya dan berpendidikan tinggi. Suasana Kotabaru adalah merupakan bagian kota yang modern, bersih, sehat namun sama sekali tiada tempat peribadatan umat Islam.
  • Masa penjajahan Jepang di awal tahun 1942 semua warga kulit putih dan Belanda dipindahkan dari Kotabaru. Rumah-rumah kosong itu lalu ditempati oleh orang-orang Jepang dan sebagian orang-orang Indonesia yang beragama Islam. Saat itu baru muncul kebutuhan suatu tempat ibadah untuk Umat Islam.
  • Masa kemerdekaan RI warga Kotabaru menjadi terdiri dari anggota-anggota tentara, pemuda, pelajar yang beragama muslim. Kebutuhan akan tempat ibadah Umat Islam semakin terasa.
  • Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda di Gravenhage Belanda. Muncul bayangan pemikiran akan kembalinya Ibu Kota RI dari Yogyakarta ke kota metropolis Jakarta. Maka kemudian timbul keinginan adanya suatu peninggalan, tanda mata dan peringatan untuk Yogyakarta, Ibu Kota perjuangan dan peringatan perjuangan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Bangunan peringatan yang sesuai dengan kesucian perjuangan bangsa Indonesia, bukan patung atau tugu / barang mati, melainkan sebuah Masjid Jami’ yang setiap saat tersirat nuansa kehidupan Umat Islam.
  • 14 Oktober 1949; Berdiri Panitia Pendirian Masjid Peringatan Syuhada yang disingkat  menjadi Panitia Masjid Syuhada
  • 17 Agustus 1950; Penetapan garis kiblat Masjid Syuhada oleh KH. Badawi
  • 23 September 1950; Peletakan Batu Pertama oleh Sri Sultan Hamengkubuwono IX. Selaku Mentri Pertahanaan RI dan Kepala Daerah DIY.
  • 25 Mei 1952; Berdiri Yayasan Asrama  dan Masjid ( YASMA).
  • 20 September 1952; Peresmian Masjid Syuhada.
  • 26 September 1952; Ibadah Sholat Jum’at pertama dengan Imam dan Khatib Muhammad Natsir. Setelah itu Wakil Presiden RI Drs. H.M. Hatta yang baru kembali dari menunaikan Ibadah Haji di Mekkah memberikan ceramahnya di ruang aula/kuliah.
  • 13 September 1953; Menerima sumbangan 24 helai permadani buatan Karachi Pakistan dari rakyat dan pemerintah Pakistan.
Dengan selesainya pembangunan Masjid Syuhada maka untuk pengelolaan dan penanggungjawab pemakmuran masjid selanjutnya Panitia Masjid Syuhada yang dibentuk pada 14 Oktober 1949 berganti nama menjadi Yayasan Asrama dan Masjid Syuhada (YASMA SYUHADA).
Jabatan Ketua Umum selalu diiberikan kepada pihak Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat sebagai waqif tanah dimana Masjid Syuhada didirikan. Saat ini (2008 – 2013) jabatan Ketua Umum diamanahkan kepada H. Kanjeng Raden Tumenggung Djatiningrat (H. Tirun Marwito, SH). Dengan tujuan dakwah dan berkontribusi pada dunia pendidikan, maka YASMA SYUHADA membentuk susunan kepengurusan sebagai berikut (periode 2008 – 2013):
Penasihat: Sri Sultan Hamengku Buwono X
                  Sri Paduka Paku ALam IX
                  Prof. Dr. H. M. Amien Rais, MA
                  GBPH H. Joyo Kusumo
                  Prof. Dr. H. Moh. Mahfudz MD
                  Ka. Kanwil. DEPAG D. I. Yogyakarta
                  Wali Kota Yogyakarta
Pembina: Drs. H. Barmawi Mukri, SH., M.Ag
                   Dr. Ir. H. Harsoyo, M.Sc
                   Prof. H. M. Suyanto, M.Pd., Ph.D
                   Dr. H. Jawahir Thontowi, SH
Pengawas: Drs. H. Subowo, M.M
                      Ir. H. Harsoyo M., Dipl.HS
                      Drs. DIdi Wahyu Sudirman, M.M
Ketua I: Ir. H. Muhammad Hanif, MT
Ketua II: H. E. Zainal Abidin, SH., MS., MPA 
Bidang Pendidikan: Ketua, Dr. Ir. H. Hary Sulistyo 
Bidang Sarana dan Prasarana: Ketua, Ir. H. Eddy Sofyan H, MT 
Bidang Pengembangan Usaha: Ketua, Amir Fansuri, SE 
Bidang Ibadah, Keta’miran, Asrama dan Alumni: Ketua, H. Dachwan, M.Si 
Bidang Kajian dan Pembinaan Kader: Ketua, Drs. Kusworo, M.Hum 
Bidang Kewanitaan: Ketua, Dra. Hj. Yayah Kusiah, M.Pd


Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada
1.    Lembaga Pendidikan Formal:
·     Taman Kanak-kanak Masjid Syuhada (TKMS): ± 200 siswa;
·     Sekolah Dasar Masjid Syuhada (SDMS): ± 600 siswa;
·     Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP-IT MS); sejak 2004: ± 100 siswa;
·     Sekolah Tinggi Agama Islam Masjid Syuhada (STAIMS); terdiri dari dua prodi yaitu: Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Komunikasi dan Penyiaran Islam (KPI).

2.  Lembaga Non Formal:
·     Lembaga Pendidikan al-Quran Masjid Syuhada (LPQMS) sejak 1952; menyelenggarakan kursus membaca al-Quran terdiri dari kelas: Pemula, Tajwid, Murattal dan Seni Baca;
·     Pendidikan Anak Masjid Syuhada (PAMS) didirikan 20 Oktober 1953; menyelenggarakan pelatihan kompetensi untuk ustadz/ustadzah TPA serta bekerjasama dengan TPA/TK menyediakan tenaga pengajar (ustadz/ustadzah);
·     Pendidikan kader Masjid Syuhada (PKMS) didirikan 20 Nopember 1954; terdiri dari 3 program utama: Markaz al-Lughah al-Arabiyah, Training Center dan Event Organizer;
·     Corps Dakwah Masjid Syuhada (CDMS); menyelenggarakan kajian keislaman dan masalah-masalah aktual, serta pembinaan terhadap remaja-remaja muslim di sekolah-sekolah;
·     Lembaga Pembinaan Keluarga Sakinah dan Bantuan Hukum (LPKSBH) Masjid Syuhada; menyelenggarakan jasa konsultan untuk permasalahan keluarga dan rumah tangga;
·     Lembaga Amil Zakat Infaq Shodaqoh Masjid Syuhada (LAZIS MS); menerima dan menyalurkan zakat, infaq dan shadaqah serta wakaf dari para jama’ah;
·     Baitul Maal Wat Tamwiil Syuhada (BMT Syuhada); sebagai pusat sirkulasi keuangan lembaga-lembaga / unit Yayasan Masjid dan Asrama Syuhada serta sebagai media pengembangan usaha;
·     Pengajian Putri Masjid Syuhada (PPMS).
·     Kelompok Pengajian Al-Quran (KPA)  Al-Hijrah Masjid Syuhada.
·     Forum Shoilihat

3. Asrama Putera dan Puteri YASMA SYUHADA
  SDM (Sumber Daya Manusia) pelaksana teknis untuk memakmurkan Masjid Syuhada (penggerak lembaga/unit non-formal) berasal dari warga Asrama Putra dan Putri YASMA SYUHADA. Asrama Putra terletak di Jl. I Dewa Nyoman Oka 28 Kotabaru-Yogyakarta 55224 Tlp. 0274-547227 atau tepatnya di sebelah timur Masjid Syuhada. Asrama putra ini berkapasitas 20 mahasiswa. Asrama putri beralamat di Jl. Pringgokusuman No. 12 berdampingan dengan kampus STAIMS Telp. 0274-514520. Setiap warga yang mondok di Asrama tidak dipungut biaya tetapi sebagai konsekuensinya bertanggungjawab  sepenuhnya atas kegiatan-kegiatan lembaga non-formal.

Program Reguler Lembaga-lembaga di Masjid Syuhada
  • Studi Islam Efektif           
  • Kajian Keluarga Sakinah
  • Pelatihan Kader Da’i       
  • Pendidikan Jurnalistik
  • Pelatihan Bahasa Asing
  • Training Ustadz/ah TPA                          
  • Pelatihan Nasyid
  • Pengembangan Masyarakat