Perdana di 2012, Kajian Ahad Pagi Masjid Syuhada

Meski kondisi lembaga dakwah ini sedang dalam masa transisi (belum terlaksananya pergantian kepengurusan), Mardinus...

Amanat Ir. Soekarno sebagai Presiden RI

...pada hari ini telah dapat diletakkan batu-pertama bagi masjid Syuhada’ di Jogyakarta. Saya harap...

Islam Agama Ilmu Pengetahuan

Tidak ada kata dalam Islam yang menyamai kata Al-’Ilm dalam kedalaman makna dan keluasan penggunaannya. Bahkan, ...

Profile Masjid Syuhada

Diakhir tahun 1949, saat Ibu Kota RI di Yogyakarta, berlangsung perundingan antara delegasi Indonesia dan Belanda...

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan

... program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS...

Pages

12 Mei 2011

TK Masjid Syuhada Bakti Pendidikan


Senin (2/5) terlihat syuhada-syuhada cilik berbaris rapi, berjalan dalam 2 barisan sambil tiap-tiap mereka menenteng sebuah bingkisan, patuh mengikuti instruksi Ibu Guru yang mendampingi mereka. “Ayo, hati-hati jalannya ya…” lembut sang guru.
Anak-anak TKMS Full Day Class berbaris didampingi Ibu Guru dan Petugas Keamanan

Pada Hari Pendidikan Nasional tahun ini (2011), TK Masjid Syuhada Yogyakarta (TKMS) mengisinya dengan program Bakti Pendidikan. Program yang di dukung penuh oleh orang tua / wali siswa/siswi TKMS ini berupa pemberian paket alat tulis kepada anak-anak yang tinggal di bantaran Kali Code yang berlokasi persis di belakang TKMS.
Kepala TKMS memberikan paket bantuan secara simbolis kepada Ketua RT 18 Kali Code

Seorang siswa TKMS sedang memberikan peket bingkisan

Menurut Kepala TKMS, Umi Kulsum program ini semata-mata sebagai bentuk silaturrahim dan mengenalkan siswa/siswi TKMS kepada anak-anak yang bertetangga dengan sekolahnya. “Selain untuk memperingati Hari Pendidikan Nasional dan mengisinya dengan kegiatan yang bermanfaat, program ini juga ditujukan untuk menumbuhkan jiwa sosial siswa/siswi TKMS” ujar beliau.

Selain sejumlah anak-anak, turut hadir pada acara itu Ketua Rt. 18 beserta sekretarisnya dan beberapa warga sekitar. Dalam sambutannya, Soegeng, Sekretaris Rt. 18 mengucapkan terima kasih kepada TKMS atas bantuan pendidikan yang diberikan dan berharap silaturrahim seperti ini terus berlanjut untuk mendukung pendidikan anak-anak sekolah di bantaran Kali Code. 
Soegeng, Sekretaris RT 18 saat memberikan sambutan
Bantuan sekira 60 paket alat tulis juga diberikan untuk anak-anak yatim /piatu di desa Tobayan, Sleman.



Reportase oleh:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

3 Mei 2011

Menuju Masyarakat Madani yang Dicontohkan Nabi

oleh: K.R.T. H. Ahmad Mukhsin Kamaludiningrat

Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا, أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّااللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ ذُوالْعِزَّةِ وَالْقُوَّةِ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الْمَبْعُوْثُ لِلنَّاسِ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهِ وَكُلِّ مَنِ اتَّبَعَ اللهُ الْهُدَى, أَمَّا بَعْدُ. فَيَا عِبَادَاللهِ أُوْصِي وَ نَفْسِيْ وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللهِ فَقَدْ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Puji syukur kita panjatkan ke hadirat Allah S.W.T yang telah memberikan berbagai kenikmatan yang kita tidak akan mampu untuk menghitungnya. Oleh karena itu kita wajib bersyukur kepada Allah yang telah melimpahkan nikmat dan karunia yang tidak terhitung itu. Allah berfirman dalam Q.S. Ibrahim : 34.

وَ اَتَكُمْ مِنْ كُلِّ مَا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ اْلِإنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ.
“Dan Dia telah memberikan kepadamu (keperluanmu) dari segala apa yang kamu mohonkan kepada-Nya. Dan jika kamu menghitung nikmat Allah tidaklah dapat kamu menghinggakannya. Sesungguhnya manusia itu sangat dzalim dan sangat mengingkari (nikmat Allah)”.

Nikmat yang sering kita lupakan adalah nikmat sehat dan kesempatan. Sebagaimana sabda Rasulullah S.A.W yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari:

نِعْمَتَانِ مَعْبُوْلٌ فِيْهِمَا كَثِيْرٌمِنَ النَّاسِ الصِّحَّةُ وَالْفَرَغُ. (رواه البخاري)
“Ada dua kenikmatan yang sebagian besar manusia lalai yaitu nikmat sehat dan kesempatan”.
Dengan kesehatan dan kesempatan itulah pada hari ini kita bisa melaksanakan Shalat Jumat di Masjid Syuhada yang kita cintai ini.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S.Ibrahim : 7

وَ إِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيْدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِيْ لَشَدِيْدٌ.
“Dan (ingatlah juga) tatkala Tuhanmu memaklumkan: sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti kami akan menambah (nikmat-Ku) kepadamu dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku) maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”.

Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Hari ini adalah hari Jumat tanggal 8 Rabiul Awwal atau Bulan Maulud tahun 1432 Hijriyah dan Insya Allah empat hari lagi yaitu tanggal 15 Februari 2011 kita akan memperingati maulid Nabi Muhammad S.A.W. Bulan Rabiul Awwal ini adalah bulan kelahiran Nabi Muhammad S.A.W dan telah menjadi budaya kita Bangsa Indonesia, hari kelahiran Nabi tersebut diperingati sebagai Hari Besar Umat Islam dan oleh pemerintah dijadikan Hari Libur Nasional. Padahal menurut tuntunan ajaran Islam hari raya itu hanya ada dua: Hari Raya Idul Fitri dan Hari Raya Idul Adha. Maka tidak mengherankan jika ada yang mengatakan peringatan maulud nabi itu adalah bid’ah. Bolehlah disebut bid’ah tapi Bid’ah Hasanah. Bid’ah yang baik. Artinya, memang suatu kreasi Umat Islam.

Peringatan Maulid Nabi ini tidak hanya menjadi budaya Bangsa Indonesia tetapi juga merupakan kebudayaan yang berkembang di Timur Tengah bahkan sudah diperingati sejak zaman kekhilafahan terakhir Umat Islam yaitu Khilafah Utsmaniyah di Turki.

Kita peringati hari maulid Nabi ini demi untuk dakwah. Sebagaimana yang dimaksudkan pada pelaksanaan peringatan maulid ini pertamakalinya, tujuannya tiada lain adalah untuk dakwah, untuk menggairahkan Umat Islam terhadap agamanya dan meneladani Rasulullah S.A.W karena pada diri Rasulullah itu terdapat contoh / suri tauladan yang baik (uswatun hasanah). Sebagaimana firman Allah S.W.T dalam Q.S. al-Ahzaab : 21

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِى رَسُوْلِ اللهِ أُسْوةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللهَ وَالْيَوْمَ الأَخِرَ وَ ذَكَرَ اللهَ كَثِيْرًا.
“Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut dan mengingat Allah”.

Keteladanan Rasulullah yang akan kita kupas pada Khutbah Jumat kali ini adalah: “Bagaimana Rasulullah S.A.W Membangun Masyarakat yang Beriman dan Bertaqwa yang Menghasilkan Barakah dan Kesejahteraan dari Langit dan Bumi”.

Bangunan masyarakat yang beriman dan bertaqwa oleh Rasulullah diawali dengan hijrah dari Makkah ke Madinah pada tahun ke-11 kenabian atau tahun ke-1 hijriyah. Masyarakat negeri yang beliau wujudkan adalah masyarakat yang berbudaya dan berperadaban (bertamadun). Yatsrib yang artinya Kota Penyakit adalah nama tempat hijrah Nabi, tetapi setelah Nabi hijrah dan tinggal di tempat itu, nama Yatsrib oleh Rasulullah S.A.W diganti dengan nama Madinah. Artinya, Kota yang berbudaya, bertamaddun.

Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Apa yang dilakukan Rasulullah setelah pindah / hijrah ke Madinah sebagai awal pembangunan masyarakat madani? masyarakat yang beriman dan bertaqwa?

Pertama, Memperkuat Ukhuwah Islamiyah. Persatuan umat adalah salah satu syarat taqwa yang sebenarnya (حَقَّ تُقَاتِهِ) disamping berpegang teguh kepada al-Quran (حَبْلِ اللهِ). Hal ini sebagaimana tercantum dalam Q.S. Ali Imran : 102 - 103.

يَأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسلِمُوْنَ. وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللهِ جَمِيْعًا وَلَا تَفَرَّقُوْا وَاذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنْتُمْ أَعْدَاءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوْبِكُمْ فَأَصْبَحْتُمْ بِنِعْمَتِهِ إِخْوَانًا وَكُنتُمْ عَلَى شَفَا حُفْرَةٍ مِنَ النَّارِ فَأَنْقَذَكُمْ مِنْهَا كَذَلِكَ يُبَيِّنُ اللهُ لَكُمْ اَيَتِهِ لَعَلَّكُمْ تَهْتَدُوْنَ.
“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah sekal-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama Islam (102) dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah dan janganlah kamu bercerai berai dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliyah) bermusuh-musuhan maka Allah menjinakan antara hatimu lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah orang-orang yang bersaudara dan kamu telah berada di tepi jurang neraka lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk”.

Ayat 103 ini memberikan penjelasan mengenai apa yang dimaksud dengan “sebenar-benarnya taqwa” (حق تقاته  ). Serta ayat 102 yang menerangkan tentang larangan mati sebelum dalam keadaan Islam. Yaitu berpegang teguh kepada tali Allah (al-Quran) dan tidak bercerai-berai. Yang dilakukan Rasulullah adalah mempersaudarakan kaum Muhajirin dan Anshar sebagai modal utama pembangunan masyarakat.

Yang kedua, Nabi Muhammad SAW membangun masjid di Madinah yang sekarang disebut sebagai Masjid Nabawy. Dari masjid itulah Nabi membina masyarakat dalam segala aspek kehidupan, keimanan dan ketaqwaan. Bahkan dari masjid itu pula nabi mengendalikan Negara Madinah. Nabi beristana di sana, angkatan perang juga dikonsentrasikan di sana, sekaligus sebagai Markas Besar Tentara Islam.

Yang ketiga, Mengganti nama Kota Yatsrib menjadi Madinah. Nama Madinah dipakai sebagai motivasi untuk masyarakat agar  menjadi masyarakat yang madani, yang maju, sejahtera, berbudaya dan berperadaban.

Yang keempat yang dilakukan oleh Nabi adalah Nabi menyadari bahwa masyarakat Madinah adalah masyarakat yang majemuk (bhineka), maka Nabi S.A.W membuat Piagam Madinah yang sangat terkenal sebagai undang-undang dasar pengaturan masyarakat yang majemuk tersebut. Majemuk dalam hal agama, budaya dan suku bangsa. Dalam masyarakat yang majemuk inilah diatur dan dikembangkan semangat kebersamaan dan toleransi (tasammuh) sebagai kunci keberhasilan pembangunan masyarakat madani.           
Jama’ah Jumat yang berbahagia Rahimakumullah,

Empat hal tersebut yang dapat kita ambil contoh / uswah yang baik,  yang hasanah kalau kita ingin membangun masyarakat yang beriman dan bertaqwa yang memperoleh barakah dan kesejahteraan dari langit dan bumi, sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. al-A’araaf : 96 sebagai berikut:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَى اَمَنُوْا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٌ مِنَ السَّمَاءِ وَاْلأَرْضِ وَلَكِنْ كَذَّبُوْا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوْا يَكْسِبُوْنَ.
“Jika sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya”.

Berbagai musibah yang menimpa bangsa dan masyarakat kita akhir-akhir ini kalau kita kembalikan kepada ayat tersebut adalah (mungkin) dikarenakan masyarakatnya kurang beriman dan bertaqwa, mungkin itu. Kemaksiatan dan kemungkaran banyak terjadi. Korupsi, perselingkuhan, porno-grafi, porno-aksi, narkoba, perjudian dan sebagainya.

Musibah yang merupakan siksaan dari Allah itu memang tidak hanya menimpa kepada orang yang bermaksiat saja, tetapi dapat tertimpa pula kepada seuruh masyarakat yang tinggal dalam lingkungan masyarakat yang penuh dengan kemaksiatan. Oleh karena itulah Islam mengajarkan Amar Ma’ruf Nahi Munkar. Kalau terjadi kemaksiatan dan kemunkaran menjadi tanggungjawab bersama kita semua untuk mencegahnya dan memperbaikinya menjadi amal yang makruf, yang baik yang sesuai dengan tuntunan agama.

Allah S.W.T berfirman dalam Q.S. Ali Imron : 104

وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُوْنَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَ يَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ.
“Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar. Mereka itulah golongan orang-orang yang beruntung”.

Dakwah amar ma’ruf nahi munkar harus dilakukan secara aktif dengan mendatangi jama’ah. Ini mungkin sedikit kekeliruan kita yang harus dievaluasi. Dakwah kita selama ini menunggu jama’ah. Yang mau datang ke masjid, merekalah yang mendapat dakwah. Tapi yang tidak pernah datang ke masjid atau ikut pengajian tidak pernah dapat. Maka sesungguhnya dakwah yang strategis, yang tepat sesuai tuntunan al-Quran adalah kita datangi mereka.

Dalam Q.S. Ali Imron : 110 Allah S.W.T berfirman:

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُوْنَ بِاللهِ وَلَوْ اَمَنَ أَهْلُ الْكِتَابِ لَكَانَ خَيْرًا لَهُمْ مِنْهُمُ الْمُؤْمِنُوْنَ وَأَكْثَرُهُمُ الْفَاسِقُوْنَ.
“Kamu sekalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar dan beriman kepada Allah. Sekiranya Ahli Kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka. Diantara mereka ada yang beriman, dan kebanyaan mereka adalah orang-orang yang fasiq”.

Dalam ayat ini Allah SWT memberikan predikat kepada Umat Islam sebagai umat terbaik yang siap dikirim untuk keluar, untuk berdakwah menyuruh kepada yang makruf dan mencegah yang munkar serta beriman kepada Allah. Jadi kesimpulan dari ayat ini saya kira bahwasanya kita harus merubah metode dakwah kita. Dari yang biasanya menunggu menjadi aktif mendatangi masyarakat dan mendakwahkan Islam.
Untuk mengefektifkan dakwah, membina masyarakat yang beriman dan bertaqwa berbasis masjid tersebut, maka Majelis Ulama Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta telah mencanangkan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah.

Kita ingat bahwasanya Masjid Syuhada ini sebetulnya dibangun oleh NKRI yang hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta. Panitia pendiriannya adalah Bung Karno, Bung Hatta, Mr. Asaat dan sebagainya. Jadi, menurut saya Masjid Syuhada ini fungsi dan tugasnya sebagai duplikat dari Masjid Nabawy di Madinah. Jika dilihat dari tata arsitekturnya memang beda, tetapi nilai-nilai historisnya hampir sama. Masjid ini adalah masjid revolusi, masjid yang inisiatif pembangunannya pada saat NKRI hijrah ke Yogyakarta. Sangat terkenal pada waktu itu, Ketua Pendirian Masjid Syuhada adalah Mr. Asaat yang pada waktu itu sebagai Presiden Negara Bagian Republik Indonesia-Yogyakarta.

Oleh karena itu kalau MUI mengusulkan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah dan Masjid Syuhada sebagai centra Masjid Madani-nya Yogyakarta saya kira cukup tepat. Memang Masjid Syuhada ini mengemban sejarah. Saya masih terkenang, ketika Masjid Syuhada ini pertamakali dibangun banyak sekali kegiatan-kegiatan yang luar biasa dan sangat-sangat maju manajemen pengelolaannya.

Dalam Amanat Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Ngarso Dalem Ingkang Sinuwun Hamengku Buwono X dalam Amanat Pembukaan Rapat Kerja Daerah MUI Hari Sabtu tanggal 29 Januari Tahun 2011 yang dimuat dalam Surat Kabar Kedaulatan Rakyat tanggal 5 Februari 2011 di halaman 2, Beliau sangat mendukung gagasan Yogyakarta sebagai Serambi Madinah bahkan beliau menegaskan bahwa dengan predikat itu justeru dapat mendukung Keistimewaan Yogyakarta yang RUU -nya saat ini sedang dibahas di DPR RI.

Pembinaan keimanan dan ketaqwaan tersebut dilakukan oleh MUI D.I Yogyakarta melalui masjid-masjid yang tersebar di seluruh wilayah D.I Yogyakarta yang jumlahnya tidak kurang dari 6.175 Masjid termasuk salah satunya Masjid Syuhada ini.

Bagi MUI adanya predikat Yogyakarta sebagai Serambi Madinah ini adalah peluang untuk dakwah. Bukan apa-apa, bukan politik, bukan Ormas tetapi peluang untuk dakwah membina keimanan dan ketaqwaan masayarakat D.I. Yogyakarta karena dengan keimanan dan ketaqwaan itulah Allah akan membukakan barakah dari langit dan bumi sebagaimana dijanjikan oleh Allah dalam Q.S. Al-Ahzab : 96 tersebut. Semoga dengan nama Yogyakarta Serambi Madinah dapat memberikan dorongan kepada masyarakat uuntuk maju menjadi masyarakat yang berbudaya, berperadaban menuju masyarakat madani yang kita cita-citakan bersama.

أَقُوْلُ قَوْلِ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ لِيْ وَ لَكُمْ وَ لِسَائِرِ الْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ مِنْ كُلِّ ذَنْبٍ وَ اسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمِ.

Khutbah Kedua

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ وَ الصَّلَاةُ وَ السَّلَامُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ صَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لَنَا ذُنُوْبَنَا وَ اِسْرَافَنَا لِْأَمْرِنَا وَ ثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَ انْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ  الْكَافِرِيْنَ. اَلَّلهُمَّ إِنَّا نَسْئَلُكَ مُوْجِبَةِ رَحْمَتِكَ وَأَدَاءِ إِمَامَ أَخِرَتِكَ وَ سَلَامَةً مِنْ كُلِّ إِثْمٍ وَ الْغَنِيْمَةَ مِنْ كُلِّ بِرٍّ وَ الْفَوْزَ بِالْجَنَّةِ وَ النَّجَاةَ مِنَ النَّارِ. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّار. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ, وَالْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.                    
 
      
Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Panca Lambang Dunia Islam


(saduran pidato K.H. Anwar Musyaddad)*


Lambang Pertama:
Masjid al-Haram yang padanya terdapat Ka’bah (Baitullah). Masjid al-Haram dengan ka’bah-nya ini dijadikan sebagai pusat peribadahan kaum muslimin sedunia. Oleh karenanya menjadi Lambang Iman dan Persatuan. Dalilnya adalah firman Allah SWT Q.S. Ali Imran: 96
“Sesungguhnya rumah yang pertamakali dijadikan tempat ibadah bagi umat manusia adalah Baitullah di Bakkah (Makkah)..”.

Lambang Kedua:
Masjid al-Nabawy yang terletak di Madinah al-Munawwarah. Di area masjid ini Rasulullah SAW disemayamkan. Sejarah belum pernah mengenal reformer kebangkitan umat dan Negara seperti Nabi Muhammad SAW. Beliau adalah seorang pemimpin sejati yang ditaati, penuh dengan kebijaksanaan dan menjunjung tinggi persaudaraan dan persatuan. Oleh karenanya Masjid al-Nabawy merupakan Lambang Keta’atan, Kebijaksanan dan persaudaraan yang erat. Dalilnya adalah firman Allah SWT Q.S. an-Nisa: 59
“Wahai orang-orang yang beriman ta’atilah Allah dan ta’atilah rasul-Nya dan Ulil Amri diantara kamu..” 

Lambang Ketiga:
Masjid al-Aqsha menjadi Lambang Keluhuran Cita-cita dan Kesucian Ideologi untuk Mencapai Keridlaan Ilahi. Dalilnya adalah firman Allah SWT Q.S. al-Isra: 1
“Maha Suci Allah Yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari al-Masjid al-Haram ke al-Masjid al-Aqsha yang diberkati sekelilingnya agar kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia adalah Maha Mendengar lagi Maha Melihat”.

Lambang keempat:
Masjid al-Azhar yang terletak di area Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Masjid ini menjadi Lambang Ilmu Pengetahuan dan Hikmah. Lebih dari 1000 tahun yang lalu al-Azhar telah memancarkan ilmu dan hikmah keislaman ke seluruh pelosok dunia. Dalilnya adalah firman Allah SWT Q.S. al-Mujadilah: 11
“Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman diantaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”.

Lambang kelima:
Masjid al-Syuhada Yogyakarta yang menjadi Lambang Jihad dan Pengorbanan. Pengorbanan yang meliputi harta, tenaga dan jiwa seluruh bangsa Indonesia. Untuk menghargai segala pengorbanan itu dan untuk memperingati para pahlawan (syuhada) maka didirikanlah Masjid Syuhada yang indah megah ini yang diharapkan dapat menjadi monument yang hidup bagi kaum muslimin seluruhnya. Dalilnya adalah firman Allah SWT  Q.S. al-Kautsar: 2-3
“Maka shalatlah kamu kepada Tuhanmu dan berkorbanlah. Sesungguhnya musuh-musuhmu yang membenci kamu, merekalah yang hancur dan terputus (dari kasih sayang-Nya)”

* Saduran pidato KH. Anwar Musyaddad ini terdapat dalam buku “Masdjid Sjuhada’” yang diterbitkan oleh Panitia Pendirian Masdjid Peringatan Sjuhada, Yogyakarta: 1952. KH. Anwar Musyaddad adalah Imam Besar pertama Masjid Syuhada Yogyakarta. Menurut pengakuan keluarganya, beliau termasuk salah satu tokoh yang menjadi target pembunuhan peristiwa 30 September 1966. Untuk menyelamatkan diri,  beliau hijrah ke kota Garut, Jawa Barat. Di tempat barunya inilah beliau mendirikan Pondok Pesantren al-Musyaddadiyah (red./cc) 

Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Bulletin: Mendaur Ulang Siswa ?

Bulletin: Mendaur Ulang Siswa ?: "oleh: Cucu Cahyana* “Manusia yang sebelumnya bodoh atau tidak memiliki semangat belajar sama sekali harus di daur ulang supaya memiliki mo..."

Mendaur Ulang Siswa ?

oleh: Cucu Cahyana*
“Manusia yang sebelumnya bodoh atau tidak memiliki semangat belajar sama sekali harus di daur ulang supaya memiliki motivasi belajar dan bermanfaat bagi sesamanya” (Ken Kawan Soetanto)


Pertengahan tahun 2009 saya menjalani Praktek Pengalaman Lapangan-Kuliah Kerja Nyata (PPL-KKN) di salah satu Madrasah Tsanawiyah Negeri di Kabupaten Sleman, D.I. Yogyakarta. Madrasah yang terletak sekitar 15 km dari puncak Merapi ini berada di lingkungan yang cukup nyaman untuk kegiatan belajar-mengajar. Dilingkupi pepohonan yang rindang, udara yang sejuk dan tentunya terhindar dari suara bising kendaraan bermotor. Meski demikian, ternyata masayarakat sekitar masih memandang sebelah mata (kualitas) madrasah ini. Demikian menurut penuturan Kepala Madrasah dan Wakil Kepala Bidang Kesiswaan. Sekolah-sekolah umum tetap menjadi pilihan utama.

Harus diakui bahwa sebagian besar masyarakat menempatkan madrasah (tidak hanya bagi madrasah tersebut) sebagai pilihan “ke-sekian” bagi anak-anaknya menimba ilmu. Alasannya klasik, ijazah madrasah “kalah nilai” dibandingkan ijazah sekolah umum. Berkembangnya anggapan seperti ini, membuat madrasah terjebak pada lingkar area yang kurang menguntungkan (negative circle).

Implikasi sebagai pilihan “ke-sekian”, madrasah memperoleh input siswa yang grade-nya di bawah rata-rata. Input yang seperti ini selanjutnya berpengaruh pada kinerja guru sebagai pendidik. Mendapati siswa yang tidak memiliki semangat belajar, susah memahami pelajaran, gaduh dan tidak memerhatikan saat belajar biasanya menjadikan guru kehilangan pula semangat mengajarnya atau mengajar dengan seadanya, tanpa merasa perlu untuk memahamkan pelajaran kepada siswa. Dan pada akhirnya output madrasah kalah jauh dibandingkan sekolah-sekolah umum favorit. Dengan output yang seperti ini maka negative circle akan terus membelenggu madrasah. Lalu, apa yang harus dilakukan untuk memutus negative circle ini?

Kondisi seperti ini pernah dijumpai Ken Kawan Soetanto (seorang WNI yang menjadi Guru Besar dan pemegang rekor peraih empat gelar doktor sekaligus di Jepang). Namun, Sang Profesor tidak menjadi keder dan kehilangan daya juang dalam mendidik. Beliau meyakini bahwa pendidikan itu sejatinya adalah menggali kemampuan / kepintaran diri setiap orang termasuk orang yang kehilangan semangat belajar. Bagi beliau semuanya serba mungkin. Sebagaimana moto hidupnya “kalau dicoba pasti bisa”. Moto ini pula yang ditularkan kepada para mahasiswanya. 

Sang Profesor seolah tengah 'dipaksa' melakukan proses daur ulang. Mahasiswa yang tadinya ‘buangan’ dari universitas favorit ia harus rubah sedemikian rupa. Yang beliau lakukan pertamakali tentu adalah ia sendiri yakin bahwa dia bisa merubah keadaan itu. Ia yakin mahasiswanya bisa semangat dalam belajar, proaktif dalam perkuliahan dan berprestasi di kemudian hari. Alih-alih ia yang patah semangatnya (sebagaimana umumnya tenaga pendidik di negeri ini) mahasiswanya kini menjadi rebutan perusahaan-perusahaan besar di Jepang. Tindakan seperti ini kiranya patut dicontoh oleh guru-guru di madrasah atau di sekolah-sekolah yang menjadi sekolah penampung ‘siswa buangan’. Daur ulang siswa? cobalah!


* Pengajar Bahasa Arab di SMP IT Masjid Syuhada dan Pendidikan Kader Masjid Syuhada Yogyakarta

15 Apr 2011

Perkembangan Dunia Islam; Mensinergikan Islam Ideal dan Islam Historis


Oleh: Prof. Dr. H. M. Amien Rais, M.A


Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلهِ الْوَاحِدِ الْقَهَّارِ, الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ, مُكَوِّرِ الَّليْلِ عَلَى النَّهَارِ, تَبْشِرَةً لِذَوِى الْقُلُوْبِ وَالْأَبْصَارِ وَ تَذْكِرَةً لِأُولِى النُّحَى وَالْإِعْتِبَارِ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ يَقُوْلُ الْحَقُّ وَهُوَ يَهْدِي السَّبِيْلَ وَ أَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا وَ نَبِيَّنَا وَ قَائِدَنَا وَمُعَلِّمَنَا وَحَبِيْبَنَا مُحَمَّدٌ رَسُوْلُ اللهِ بَلَّغَ الرِّسَالَةَ وَأَتَى الْأَمَانَةَ وَنَصَحَ الْأُمَّةَ وَ كَشَفَ الْغُمَّةَ وَجَاهَدَ فِى اللهِ حَقَّ اعْتِقَادِهِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ وَ سَلِّمْ وَ بَارِكْ عَلىَ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَ عَلَى اَلِهِ وَ أَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ. فَيَأَيُّهَا الْمُسْلِمُوْنَ أُوْصِيْكُمْ وَ نَفْسِيْ بِتَقْوَى الله فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُوْنَ. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا اتَّقُواللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَ أَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.

Saudara-saudaraku Jama’ah Jum’at Rahimakumullah
Pada hari Jumat ini, yang adalah Sayyidul Ayyam, yang pertamakali kita lakukan, marilah kita memperbaharui dan memperkuat rasa syukur kita kepada Allah Rabbul’alamin. Sebagai hamba Allah kita diwajibkan untuk selalu bersyukur atas segala nikmat yang telah dilimpahkan-Nya kepada kita semua. Nikmat yang berupa apa saja. Kesehatan, usia, rezeki, keturunan, jabatan atau kedudukan, harta, pergaulan, masyarakat dimana kita hidup yang Insyallah  tetap tenang serta bersyukur atas kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara di Tanah Air tercinta ini. Itu semua sesungguhnya merupakan nikmat Allah S.W.T yang harus selalu kita syukuri dengan sebaik-baiknya. Allah S.W.T berfirman:

وَأَتَاكُمْ مِمَّا سَأَلْتُمُوْهُ وَإِنْ تَعُدُّوْا نِعْمَةَ اللهِ لَا تُحْصُوْهَا إِنَّ الْإِنْسَانَ لَظَلُوْمٌ كَفَّارٌ.
Jadi, sebagaimana tertera dalam ayat di atas, Allah telah memberikan apa saja yang kita perlukan untuk hidup di dunia ini. Dan kalau engkau, kita semua, mencoba menghitung nikmat Allah itu niscaya tidak mungkin akan dapat menghitungnya karena begitu banyaknya nikmat tersebut. Cuma sayang sekali kebanyakan manusia itu sering berbuat dzalim dan seringkali cenderung kafir, membelakangi, menentang dan tidak mengakui serta mensyukuri nikmat Allah ini.

Kedua, marilah pada hari yang mulia ini kita semua memperkokoh, memperkuat, meneguhkan dan menyempurnakan taqwa kita kepada Allah S.W.T. Besok-lusa pasti kita akan meninggalkan dunia yang fana ini, semua kegemerlapannya, semua yang kita lihat, kita dengarkan dan rasakan akan menjadi masa lalu dan kita akan menghadap Allah dengan berbekal satu hal saja yaitu taqwa.  Semua akan kita tinggalkan, karena itu Allah berfirman:
وَ تَزَوَّدُوْا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى...
Melalui ayat di atas Allah S.W.T memerintahkan kita supaya selalu mengumpulkan bekal kehidupan untuk menyongsong akhirat. Dan ketahuilah bahwa sebaik-baik bekal atau sangu hidup itu adalah taqwa.
Dalam Khutbah pendek ini saya akan memberikan sedikit catatan mengenai “Perkembangan Dunia Islam

Dunia Islam terutama di Timur Tengah saat ini sungguh memperihatinkan. Terjadi perang saudara dan perebutan kekuasaan yang menimbulkan korban jiwa manusia. Padahal Islam sesungguhnya mengajarkan perdamaian dan persaudaraan. Hanya saja kadang-kadang para tokohnya, politisi atau negarawannya justeru jauh dari ajaran Islam itu sendiri.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Sebagaimana kita ketahui, salah satu nama dari 99 nama Allah S.W.T yang terdapat dalam Asma’ul Husna adalah as-Salam, Yang Maha Damai. Sehingga ada seorang teman yang namanya Abdus Salam, hamba Sang Maha Damai. Sebagai muslim juga dimana saja berada kita diperintahkan untuk menyebarkan salam sebagaimana dalam hadist dikatakan: Afsu as-salaam ilaa man ‘arofta wa man lam ta’rif”, sebarkanlah salam (perdamaian disegenap penjuru dunia) baik kepada orang yang engkau kenali atau pun orang yang tidak engkau kenal. Begitupun saat kita selesai shalat, kita tengokkan muka kita ke kanan dan ke kiri sambil mengucapkan salam. Begitulah hakikat munculnya Agama Islam, Islam yang penuh dengan keberserahan diri datang untuk menciptakan kedamaian.

Merujuk pada kondisi sekarang ini barangkali tidaklah salah apa yang telah dikatakan Muhammad Abduh lebih dari satu abad yang lalu bahwa: al-Islaamu Mahjuubun Bil Muslimiin”, Islam itu tertutupi keindahanya, keelokannya dan kesempurnaanya oleh perilaku umat Islam itu sendiri. Sehingga ada seorang pemikir Islam yang mengatakan bahwa sesungguhnya ada dua jenis Islam di dalam kehidupan kita ini. Pertama, Islam Ideal sebagaimana dalam Al-Qur’an dan As Sunah, yaitu idea Islam yang sudah utuh dan sempurna (tammam dan kaaffah) yang penuh keindahan dan kesempurnaan tetapi ada juga yang Kedua, yaitu Islam Historis atau Historical Islam atau Islam Sejarah. Yaitu Idea Islam yang dalam perjalanan kehidupan kaum muslim itu sendiri, sudah dipraktekkan namun kadang kala tidak menunjukkan kebagusan dan kecemerlangan Islam.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Allah S.W.T di dalam al-Qur’an sesungguhnya dengan sangat jelas menyatakan bahwa nyawa manusia itu terlalu amat sangat berharga. Mari kita cermati apa yang terjadi dengan pucuk pimpinan negara-negara muslim yang saat ini tengah mengalami pertikaian dan konflik intern hingga menyebabkan hilangnya nyawa manusia.

Saya sudah empat kali bertemu dengan Presiden Libya Mu’ammar Khadafi. Dua kali bertemu di tenda dan dua kali di rumahnya sendiri. Setiap kali bertemu dengan Khadafi, sebelum ngomong-ngomong, biasanya dia selalu mengundang Qari untuk membacakan Al-Qur’an sekira satu sampai dua ruku’. Seolah-olah betapa meresapnya ajaran al-Qur’an atau agama Islam di dalam dada (hati) Khadafi.

Husni Mubarok muncul dari negeri muslim bernama Mesir. Jika ada sebuah negara yang namanya tercantum di dalam al-Qur’an, pasti bukan Indonesia, Malaysia dan bukan Irak tetapi Mesir. Karena Mesir ini adalah sebuah negara dimana para nabi pernah lewat, singgah atau pernah hidup di negeri ini. Artinya Mesir punya akar yang sangat panjang dalam sejarah agama-agama samawi.  Realitas sekarang pun menunjukan bahwa gudangnya ulama juga ada di Mesir.

Tapi kadang-kadang sekarang ajaran islam itu seperti hanya lewat saja tidak menghunjam di hati sanubari para tokoh, negarawan, politisi bahkan mungkin sebagian ulama di sana. Jadi kita melihat berita-berita di televisi seakan-akan Islam itu terhempas. Apakah Islam seperti itu, menyukai kekerasan dan pertumpahan darah? sebegitu mudahnya kah nyawa itu lenyap di negeri muslim?

Di Indonesia saya kira Presiden Soeharto masih agak lumayan. Di demo pada tanggal 20 Mei kemudian lengser pada tanggal 31 Mei. Mubarak butuh 18 hari baru lengser. Sedangkan Khadafi sudah sekian ribu orang yang meninggal tapi tetap tak mau mundur.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Maksud saya adalah bacalah Al-Qur’an dan resapilah nilai-nilainya. Ketika Qabil membunuh Habil dalam cerita anak Adam yang berebut suatu perkara keduniaan, Allah S.W.T membuat suatu ketentuan, regulasi yang amat sangat penting. Allah S.W.T berfirman:

مِنْ أَجْلِ ذَلِكَ كَتَبْنَا عَلَى بَنِيْ إِسْرَائِيْلَ أَنَّهُ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِغَيْرِ نَفْسٍ أَوْ فَسَادٍ فِى الْأَرْضِ فَكَأَنَّمَا قَتَلَ النَّاسَ جَمِيْعًا وَ مَنْ أَحْيَهاَ فَكَأَنَّمَا أَحْيَا النَّاسَ جَمِيْعًا.
Yakni, barang siapa membunuh satu nyawa yang tak berdosa atau nyawa tersebut tak melakukan kerusakan di muka bumi, sesungguhnya sama saja ia membunuh seluruh manusia. Jadi, jika sekarang populasi manusia di bumi ini sekitar 8 miliyar, maka jika seseorang membunuh satu nyawa manusia yang tidak berdosa berarti sama saja dia telah membunuh 8 miliyar manusia. Sebaliknya jika ada orang yang menghidupkan, menolong, merawat atau menyelamatkan satu nyawa manusia tak berdosa maka sesungguhnya sama saja dia telah menyelamatkan seluruh umat manusia.

Menurut saya, terus terang umat muslim sekarang ini telah gagal memahami al-Qur’an. Negeri-negeri muslim yang al-Qur’annya dibaca setiap hari, qari-nya berjumlah ribuan dan huffad-nya (penghafal al-Quran) juga mungkin amat sangat banyak tetapi kemudian ruh atau sinar al-Qur’annya tidak ditangkap, tak diserap. Alhasil, yang terjadi seperti yang kita lihat sekarang ini.

Lantas sebenarnya peristiwa yang terjadi di Timur Tengah kini seolah-olah adalah “Iklan” yang buruk yang buruk dan merusak citra agama kita. Jadi, dengan entengnya orang-orang dari Barat, orang-orang yang Islamophobia, benci Islam tanpa sebab seperti mendapatkan amunisi yang amat sangat gampang, sangat murah dan mudah tersedia dan kemudian dengan enteng menuding “Lihatlah Islam, Islam gagal membangun perdamaian, Islam gagal merawat ketenangan dan kerukunan, Islam gagal menjadi payung bagi kemanusiaan dan lain sebagainya”.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Yang salah tentu bukan ajarannya, bukan kesalahan Nabinya dan juga Insya Allah bukan kesalahan ulamanya tetapi kita sendiri sebagai orang Islam yang sesunggunya memiliki al-Qur’an dan Sunah yang demikian bagus, elok dan sempurna itu tidak pernah kita buka, tidak pernah dihayati dan bahkan seringkali kita lupakan.

Jika tadi saya mencermati kondisi di Timur Tengah, maka di negara kita Indonesia alhamdulillah tidak separah itu. Tapi juga kelihatannya kadang-kadang ada orang yang menyebarkan ayat-ayat Allah, ada orang-orang yang seolah-olah pejuang Islam tapi juga mudah tersandung, mudah terkalahkan dengan kepentingan keduniaan. Karena itu muaranya pun sama saja, sedikit banyak akan merusak citra dan image Islam di nusantara ini.

Saudara-saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah
Marilah kita sebagai orang Islam, sebagai pribadi, keluarga, jam’iyah, ormas, parpol, yayasan, civitas universitas, pengelola LSM dan apa pun itu, marilah kita benar-benar merapatkan antara Islam yang Ideal dan Islam Historis. Antara ideal islam dan practical islam, antara Islam yang ideal dengan Islam yang kita praktekkan. Sehingga jangan sampai  jarak ini menganga. Karena jika terlampau menganga jarak antara keduanya maka hal itu bisa menjadi iklan yang buruk untuk agama kita. Mudah-mudah catatan yang pendek ini bisa menjadi renungan untuk kita semua. 

جَعَلْنَا اللهُ وَ إِيَّاكُمْ مِنَ الْعَائِدِيْنَ وَالْفَائِزِيْنَ وَ دَخَلْنَا وَإِيَّاكُمْ فِى زُمْرَةٍ عِبِادِهِ الصَّالِحِيْنَ.
أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَاسْتَغْفِرُوا اللهَ الْعَظِيْمَ.

Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلهِ, صَدَقَ وَعْدَهُ وَ نَصَرَ عَبْدَهُ وَ أَعَزَّ جُنْدَهُ وَ هَزَمَ الْأَحْزَاَبَ وَحْدَهُ. أَشْهَدُ أَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللهُ وَاحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ وَ أَشْهَدُ أّنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَ رَسُوْلُهُ. إِنَّ اللهَ وَ مَلَائِكَتَهُ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ, يَأَيُّهَا الَّذِيْنَ أَمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا. أَعُوْذُ بِاللهِ مِنَ الشَّيْطَانِ الرَّجِيْمِ بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. اَلَّلهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ عَلىَ اَلِ مُحَمَّدٍ. اَلَّلهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَ الْمُسْلِمَاتِ وَ الْمؤْمِنِيْنَ وَ الْمُؤْمِنَاتِ اَلْأَحيَاءِ مِنْهُمْ وَ الْأَمْوَاتِ إِنَّكَ سَمِيْعٌ مُجِيْبث الدَّعْوَاتِ. رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِيْنَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَ لَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلىَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَ لَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَ اعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَنَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِيْنَ. رَبَّنَا عَلَيْكَ تَوَكَّلْنَا وَإِلَيْكَ أَنَبْنَا وَ إِلَيْكَ الْمَصِيْرَ. رَبَّنَا لَا تَجْعَلْنَا فِتْنَةً لِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَاغْفِرْ لَنَا رَبَّنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَزِيْزُ الْحَكِيْمُ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيْعُ الدُّعَاءُ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَ هَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَدًا. رَبَّنَا أَفْرِغْ عَلَيْنَا صَبْرًا وَ تَوَ فَّنَا مُسْلِمِيْنَ. رَبَّنَا هَبْلَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَ ذُرِّيَّتَنِاَ قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَ اجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِيْنَ إِمَامًا. رَبَّنَا أَدْخِلْنَا مُدْخَلَ صِدْقٍ وَ أَخْرِجْنَا مُخْرَجَ صِدْقٍ وَ اجْعَلْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ صُلْطَانًا نَصِيْرَا. رَبَّنَا أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَنَا الَّذِيْ هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَ أَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَا الَّتِيْ فِيْهَا مَعَاشُنَا وَ أَصْلِحْ لَنَا أَخِرَتُنَا الَّتِيْ إِلَيْهَا مَعَادُنَا. اَلَّلهُمَّ اجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَ اجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شَرٍّ. اَللَّهُمَّ اجْعَلِ الْيَوْمَ خَيْرًا مِنْ أَمْسِنَا وَ اجْعَلْ غَدَّنَا خَيْرٌ مِنْ يَوْمِنَا. رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَ فِى الْأَخِرَةِ حَسَنَةً وَ قِنَا عَذَابَ النَّارِ. سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ وَ سَلاَمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ وَ الْحَمْدُ لِلهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ. أَقِمِ الصَّلَاةَ!   


Penyunting:
Cucu Cahyana
Mahasiswa Jurusan Pendidikan Bahasa Arab
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta